Minggu, 20 Desember 2015

Kisah Klasik Untuk Masa Depan



              Bapak Hendrik, mendengar nama itu teringat mengajar beliau yang serius tapi menyenangkan. Tidak heran sebagian siswa mengidolakan beliau. Beliau menjadi guru tak semudah membalikan telapak tangan. Kesuksesan yang beliau rasakan sekarang berkat perjuangan dalam perjalanan hidupnya sejak kecil. Guru satu ini memiliki nama lengkap Hendrik Eko Priyanto. Lahir di desa Sinanggul, 26 April 1971. Beliau merupakan anak pertama dari empat bersaudara yang lahir dari pasangan Bapak Kusnadi dan Ibu Sofiyatun. Bapaknya bekerja sebagai petani dan  ibunya sebagai ibu rumah tangga. Walau dengan keadaan keluarga yang pas-pasan, namun itu semua tidak mematah semangat beliau untuk mengukir prestasi yang gemilangnuntuk masa depannya.
                Bapak Hendrik sering dipanggil Si Doel oleh orang sekitarnya. Di balik panggilan Si Doel bukanpanggilan asal-asalan. Beliau dipanggil  Si Doel karena di anggap sebagai orang yang tidak  diperhitungkan, miskin, tapi oleh masyarakat sekitar mengatakan pintar. Dengan seemangat yang tinggi serta sarana dan prasarana yang seadanya beliau belajar dengan sungguh-sungguh sambil kerja. Semua dilakukan sejak SD kelas lima dan enam. Jangan salah ini semua beliau lakukan hanya untuk membantu orangtuanya yang hanya mengandalkan kebun untuk menghidupi keluarga. Setiap pulang sekolah beliau tidak bermain dengan teman sebayanya, melainkan bekerja di antaranya ukir dan mahat, membantu Bapaknya di kebun serta buruh di rumah tetangga seperti membersihkan kamar mandi, mengecat, membersihkan rumah, dan lain-lain.
                Ada hal yang unik dari beliau. Selama enam tahun tahu di SD beliau hanya mengunakan sepasang sepatu dan hanya satu seragam. Karena terkungkung dengan sepatu yang ukurannya kecil, membuat kakinya berukuran kecil dan tidak proposionaal sampai sekarang ini. Sepatu yang digunakan beliau hanya berukuran 38. Ada hal yang begitu berkesan bagi beliau yaitu merupakan orang pertama yang masuk sekolah umum di Desa Sinanggul, karena sebagian besar masuk pesantren atau madrasah. Dengan hidup mandiri menjadikan mental beliau kuat dalam menghadapi kehidupan, sehingga menghadapi model penderitaan seperti apapun pasti bisa. Di usia SMP beliau terkenal anak yang nakal dan saat kelas tiga menjadi baik. Setelah memasuki SMA semuanya menjadi berubah. Beliau menjadi pribdi yang pendiam, tapi fokus belajar. Karena mendapat sedikit ancaman dari Orangtua “Sedikit membohongi orang tua maka harus keluar dari SMA”.
                Orang tua juga selalu mendorong untuk sekolah dan melarangnya untuk bekerja dan harus bersekolah, karena anak yang sudah bisa bekerja jadi malas belajar. Ada hal unik lai dari beliau, selama tiga tahun di SMA presensinya hadir 100%. Beliau juga lulus dari SMA dengan rangking 3 paralel dari 120 siswa. Setelah  mendapat ijazah SMA dengan prestasi yang membanggakan, beliau berkeinginan untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi. Melihat keadaan keluarga yang kurang, dengan minta izin orang tua pasti tidak disetujui. Akhirnya beliau memilih strategi mendaftar kuliah dulu, setelah diterima baru bilang dengan orang tua. Beliau yakin dengan semangat yang besar, Allah pasti member jalan. Memanfaatkan uang hasil sunatan adiknya, yaitu Rp 20.000 beliau gunakan untuk membeli formulir pendaftaran seharga Rp 18.000 dan sisanya digunakan sebagai ongkos untuk ke Semarang.
                Dan hasilnya beliau diterima di IKIP Negeri Semarang di fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial jurusan Pendidikan Sejarah, sehingga mau tidak mau orang tuanya harus membiayai. Dengan perjuangan beliau yang begitu besar, akhirnya orang tuanya memutuskan untuk membagi hak waris. Beliau mendapat warisan berupa sepetak tanah yang digunakan beliau untuk membiayai kuliah. Namun,sepetak tanah itu hanya cukup sampai semester IV. Setelah kehabisan dana, beliau memanfaatkan beberapa ketrampilannya seperti potong rambut, hibur teman dengan banyolan, berbagai macam seni dan olahraga sehingga memudahkan untuk kuliah. Makanpun jarang beli karena ditraktir teman-temannya yang merupakan anak orang kaya, namun tidak bisa memanfaatkan fasilitas yang dimiliki. Salah satu teman beliau yang sakit Leukimia yaitu Kukuh Ary Wicaksono dan karena penyakitnya beliau selalu berusaha menghibur temannya dan tidak cek darah lagi. Dan temannya masih hidup sampai sekarang. Sehingga tiap pulang ada yang jemput dan penginapanpun ada yang nanggung.
                Suatu hari beliau juga bertemu dengan juara satu Catur Putri, mereka bermain bersama dan bapak Hendrik dapat mengalahkan. Beliau akhirnya mendapat buku kuiah gratis dari cewek itu. Semester VII beliau mengikuti beasiswa Ikatan Dinas karena mempunyai prestasi. Beliau lulus dengan tiga besar dan menjadi wisudawan terbaik tahun 1994 dari 38 orang dalam satu angkatan dan yang lulus hanya enam orang termasuk beliau. Beliau lulus tahun 1994 dan langsung ditempatkan di SMAN 1 Welahan sampai sekarang ini Dari 18 orang yang ikut Ikatan Dinas semua ditempatkan di Nusa Tenggara Barat, namun bapak Hendrik belum sendiri. Setelah diurus ke Jakarta ternyata ada sedikit kesalahan dengan ijazahnya. Dan kebetulan waktu penempatan Ikatan Dinas sudah pindah ke Jawa Tengah dan kebetulan di Jepara ada pembangunan gedung baru yaitu SMAN 1 Welahan. Akhirnya beliau di tempatkan di SMAN 1 Welahan. Dari itu, beliau menyadari bahwa ridho oran tua sangat berarti, karena sebelumnya orang tua beliau tidak rela jika beliau kerja jauh dari keluarga.

Racun Yang Menggerus Etika Generasi Muda



            Mencermati perkembangan siaran televisi dalam beberapa tahun terakhir ini, makin terasa bahwa perkembangan bidang siaran televisi dan pelaksanaannya tidak cukup mampu menghasilkan isi siaran yang sopan, bermartabat, mendidik dan menghibur secara sehat serta aman bagi remaja. Stasiun televisi hendaknya memikirkan betul perkembangan generasi bangsa ini, tidak sekedar bermuara pada meraup keuntungan yang sebanyak-banyaknya, tanpa memikirkan nasib konsumennya. Stasiun Tv seharusnya ikut andil dalam mendidik generasi bangsa ini, supaya menjadi bangsa yang berkaraker, kepribadian timur, beretika, dan bermoral, karna nasib kemajuan bangsa ada pada pundak generasi muda. Tetapi pada kenyataannya sebagian stasiun televisi menyuguhkan tayangan-tayangan yang kurang berkualitas dan jika diamati akan menimbulkan dampak yang meracuni dan menggeruss etika generasi muda bangsa. Kontrol terhadap tayangan televisi di masa ini dan masa depan perlu ditambah demi terciptaya bangsa yang berkarakter, beretika, dan berbudaya.
            Cerita yang berates-ratus episode dalam sinetron alur yang irasional sudah menjadi hal umum di persinetronan Indonesia. Kualitas jauh dari layak untuk di tonton, tetapi pada kenyataannya sinetron masih eksis ranah pertelevisian Indonesia. Cerita yang sering menonjolkan sisi kemewahan, perselingkuhan, iri, dengki, meengambil hak orang lain, anak sekolah yang bergeng, senior yang mengerjai juniornya, guru yang diceritakan sebagai sosok yang culun, pelajar membolos seekolah, berpesta di diskotik, saling menjatuhkan dan penindasan dengan melebihi batas kemanusiaan. Semua itu tidak lepas dari warna cerita di sinetron Indonesia.
            Seorang peneliti bernama Dywer menyimpulkan bahwa media audio visual atau teleevisi mampu merebut 94% masuknya pesan-pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia, dngan cara ditransfer melalui mata dan telinga. Televisi mampu membuat orang mengingat 50% dari apa yan mereka lihat dan dengar di layar televise walaupun hanya sekali ditayangkan. Atau secara umum orang akan mengingat 85% dari apa yang mereka lihat di televise setelahtiga jam kemudian, dan 65% setelah tiga hari kemudian.
Maka dari itu penayangan sinetron dapat menabrak waktu belajar yaitu pukul 18.00-21.00, di mana waktu tersebut seharusnya digunakan untuk belajar. Tetapi karena sinetron telah membius jutaan penonton hingga tidak mau ketinggalan satu episode meskipun setiap episode menyuguhkan cerita yang tidak masuk akal tetap saja di tonton dengan mengorbankan waktu belajar. Hal yang semacam itu harus diatasi dengan peran orang tua sebagai manager waktu bagi putra-putrinya.
Sinetron sedikit demi sedikit dapat merubah moral, budaya, etika, gaya berpakaian cara berbicara hingga kebiasaan-kebiasaan para remaja, karena jiwa remaja masih labil dan masih mencari jati diri. Hal tersebut tidak boleh dibiarkan terus menerus ada dalam jiwa remaja, arena hal tersebut merupakan hal yang menyimpang dan berbanding terbalik dengan kepribadian bangsa Indonesia
            Remaja perlu ditolong dari pembodohan sinetron. Memang tidak mudah jika sudah terlanjur melekat, tetepi kembali pada masing-masing individu. Tentunya sebagai remaja tidak ingi ketinggalan zaman dan selalu ingin di anggap gaul, tetapi meniru hal-haal yang tidak sesuai dengan budaya timur bukanlah caara untuk menjadi yang diharapkan. Nilai moral, budaya, dan etika sebagai bangsa Indonesia perlu dijunjung tinggi agar eksisnya sinetron yang menjadi menu wajib pertelevisian yang menimbulkan damapk negatif dapat ternetralisir dengan kepandaian remaja menyaring mana yang tidak sesuai dan mana yang bleh di contoh. Remaja juga  perlu memperhatikan dan mematuhi kode yang adaa di pojok televisi yaitu BO, SU, R, A, D, yaitu kode yang menunjukkan untuk siapa tayangan televisi disajikan
            Mengganti menu sinetron dengan menonton yang lebih bermanfaat misalnya berita dan acara realita kehidupan seseorang yang dapat dijadikan tauladan, agar mengerti seperti apa kehidupan sebenarnya sehingga menjadikan remaja dapat menghargai seseorang. Acara yang menyajikan tentang prestasi, jasa, bakat dan perbuatan baik seseorang juga layak untuk di tonton, seperti Kick Andi, Laptop Si Unyil, dsb. Acara tersebut sedikit banyak mampu memberikan motivasi kepada para penonton remaja khususnya, sehingga mereka dapat tergugah mengolah bakat dan minat untuk mengembangkan prestasi.
Memang memainkan sinetron, membuat sinetron, menulis alur cerita sinetron, dan memproduksi sinetron bukan hal mudah. Dibutuhkan kerja keras dan memutar otak untuk mendapatkan cerita yang menarik. Namun, para remaja yang posisinya sebagai konsumen layak mendapatkan tontonan yang berkualitas. Sebaiknya para produser menyuguhi konsumen dengn tontonan yang berkualitas, bermutu, mempunyai nilai moral yang jelas, dan mendidik. Agar generasi muda bangsa ini dapaat memperoleh pengetahuan sekaligus belajar etika dan jati diri bangsa tetap terjaga dengan aman. Hentikan tayangan pembodohan agar dampaknyaa tidak meracuni geenerasi muda bangsa, sehinggaa bangsa dapat melepaskan diri dari problematikaa ekonomi, social, dan politik. Terciptanya bangsa yang maju, teerwujudnya kesejahteraan, etika yang indah serta kemakmuran yang di cita-citakan dan di idam-idamkan bangsa sejak dulu.
              

Selasa, 20 Oktober 2015

Ulasan Wayang Kampung Sebelah



"MAWAS DIRI MENAKAR BERANI"

Saat kakek memimpin penghitungan suara pilkades. Papan tulis untuk mencatat penghitungan suara tiba-tiba hilang. Kepala keamanan ditanya tidak tahu. Begitu juga dengan Sodrun ketika ditanya malah salah tangkap merasa dituding sebagai biang hilangnya papan tulis. Namun papan tulis itu ternyata disimpan kembali oleh Suto Coro sebagai kepala rumah tangga kelurahan. Dia tidak merasa bersalah menyimpan kembali papan tulis itu . Terjadi perdebatan sengit antara Suto Coro dan Mbah Sidik yang berakhir dengan kesanggupan Suto Coro meminjamkan papan tulis.
Parjo memberikan hasil penghitungan suara kepada kakek yang lagi sibuk mencari papan tulis. Kakek setelah itu membacakan hasil penghitungan suara yang di menangkan oleh Somad sebagai pemenang pilkades. Somad diminta menandatangani berita acara sebagai pemenang, kemdian kakek meminta bonus pemenangan kepada Somad.
Somad mengadakan hiburan dalam rangka tasyakuran kemenangan sebagai lurah baru Desa Bangunjiwo. Sederetan artis di datangkan di atas panggung untuk menghibur penonton. Tiba-tiba Jhony naik ke atas panggung. Dia memprotes kemenangan Lurah Somad yang dianggap curang. Apa jadinya desa ini jika dipimpin oleh orang yang sejak berangkat meraih jabatan telah melakukan kecurangan. Kelak saat memimpin pasti juga akan tega melakukanyang lebih dari iitui. Jhony mempengaruhi massa agar bergerak menegakkan kebenaran dan keadilan dengan menggagalkan hasil pilkades.
Seorang yang mabuk merasa terusik oleh Jhony. Dia segera naik ke atas panggung meminta Jhony berhenti berbicara, dia menantang berkelah orang yang mabuki. Tapi pemuda pemabuk itu menanggapi dengan senyum sinis. Ia menegaskan bahwa dirinya adalah sang pemabuk netral. Jhony yang merasa terdesak dalam perdebatan itu langsung menyerang Kampret. Perkelahian keduanya memicu tawur massa.
Karyo mendatangi Pak Gendut seorang anggota polisi, Mbah Modin, Pak Somad, dan Parjo.
Karyo langsung memarahi semua orang yang tidak bergerak apa-apa seakan menikmati kerusuhan yang sedang terjadi. Pak Gendut disuruh agar bergerak meredam kerusuhan.


Karyo bingung. Dia mendesak Pak Somad sebagai lurah yang baru harus bisa mengendalikan situasi. Pak Somad berkata, karena pejabat baru maka belum menguasai masalah. Dia perlu mempelajari situasi dan kondisi dahulu, berkoordinasi, baru bisa menentukan tindakan yang harus diambil.
Pak Karyo berkata “Waaaa… rakyate selak modar, Pak!”. Calon pemimpin sebelum menjabat seharusnya sudah lebih dulu menguasai masalah, bukan menjabat dulu baru mempelajari masalah. Kalau sikap dan pola pikir calon-calon pemimpin di negeri ini seperti itu, mustahil ada pemimpin yang benar-benar menguasai masalah dan mampu menyelesaikannya. Kaderisasi pemimpin di negara ini memang benar-benar bermasalah.
Terakhir Karyo berbicara kepada anggota TNI, agar ambil inisiatif bergerak meredam kerusuhan. Parjo berkata, bukan ranah tugas dan wewenangnya. Tugas dan wewenangnya ada di wilayah pertahanan dan keamanan negara. Urusan keamanan adalah tugas kepolisian. TNI hanya punya wewenang membantu polisi kalau ada intruksi dari pihak kepolisian. Jika bergerak sendiri, TNI akan menyalahi prosedur dan tentu akan dipersalahkan oleh semua orang. Karyo sudah tak habis pikir. Di kerusuhan itu, rakyat saling berbenturan. Setiap saat nyawa bisa melayang tanpa mau menunggu keputusan prosedur hukum.
Kampret  tiba-tiba muncul  tidak mempermudah penyelesaian masalah tapi justru memperumit penyelesaian masalah. Orang cenderung menghindar dari pekerjaan berat. Anehnya kita berkelahi mati-matian untuk memperebutkan pekerjaan yang berat. Betapa hebatnya bangsa ini yang ternyata dipenuhi manusia-manusia super yang berebut siap menanggung beban beratnya kekuasaan.

Ulasan Film Perjuangan Tokoh Bangsa Ir. Soekarno



Ulasan Film Soekarno yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo ini diproduseri oleh Raam Punjabi. Film Soekarno ini menggambarkan perjuangan para tokoh pendiri bangsa Soekarno dalam upaya meraih kemerdekaan Indonesia. Nama kecil Soekarno yaitu Kusno, beliau saat itu sering sakit kemudian bapak dan ibunya ingin mengubah nama anaknya, akhirnya orang tuanya menemukan nama yaitu Soekarno . Mulai mengenal cinta perempuan, namun ketika dia datang di rumah perempuan itu tidak di setujui orang tuanya karena orang pribumi. Soekarno dari kecil bercita-cita menjadi pemimpin, akhirnya dia mendengar orasi tentang penindasan ingin bebas dari penindasan.
            Malam hari tahun 1934 Soekarno di penjara di ende 4 tahun karena memberontak komunis, dipenjara beliau menulis surat. Ketika mengajar di kelas dia memberitahu yang diajarnya tentang memberantas Jerman dan Belanda karena Indonesia pada waktu itu di kuasai Belanda. Datang ke rumah Fatma memberikan foto, kemudian tahun 1940 menandatangani tiga poros. Tahun 1941 terjadi pertempuran dengan Jepang, rakyat jelata yang tidak berdosa disiksa, dibunuh, ditembak sampai meninggal. Pada waktu itu rakyat Indonesia membawa bendera Jepang, karena Jepang mengisi kekosongan pemerintahan di Indonesia. Soekarno di cari kolonel Jepang, untuk di ajak diskusi, namun penindasan terus berlangsung.
 Anak-anak dan orang tua perempuan diculik kolonel Jepang untuk dibunuh Soekarno tidak suka dengan itu semua. 42 kapal bragas di sambut, rapat dengan Jepang menyusun rencana untuk memerdekakan. Di Istana Gubernur Jendral Soekarno bertemu dengan atasan kolonel Jepang. Akhirnya Soekarno pulang ke Surabaya menggunakan kereta kemudian tiba di stasiun Gubeng Surabaya, Soekarno mengambarkan menuju kemerdekaan Indonesia. Pulang ke rumah kemudian sungkem dengan ibunya. Fatma suka kepada Soekarno tapi tidak direstui oleh orang tuanya,  Fatma menulis surat untuk Soekarno. Waktu beliau berencana mengibarkan bendera merah putih teringat Fatma.
Inggit mengetahui tentang surat dari Fatmawat kemudian istri Soekarno mengizinkan untuk menikah lagi, akhirnya Soekarno menikah dengan Fatma, mereka bahagia dan punya anak. Pada waktu itu beliau di senangi para rakyat. Jepang mulai menjajah Indonesia lagi, rakyat di paksa kerja Romusha. Akibat pertempuran terjadi perlawanan komunis Jepang dan akhirnya banyak yang meninggal. Soekarno mendapat surat untuk mengibarkan bendera merah putih. Pada tanggal 1 Juli 1945 sidang BPUPKI tidak menghasilkan apa-apa. Soekarno menjawab tiga dasar  negara. Indonesia bebas dari Jepang, mendapat kabar Hirosima dan Nagasaki di bom oleh Amerika Serikat sehingga di manfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya, para rakyat memaksa malam itu harus memerdekakan Indonesia, tetapi beliau tidak mau karena tidak mau terburu-buru mengambil keputusan. Malam hari, Soekarno di culik dan pada tanggal 16 Soekarno ditemukan.
Soekarno mulai menyusun rencana dengan Hatta, bertemu Laksamana Maeda. Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebarjo menyusun teks proklamasi di rumah Laksamana Maeda jalan Imam Bonjol No.1 tempatnya di ruang depan pukul 02.00-04.00. Teks proklamasi di tulis oleh Ir.Soekarno sendiri, setelah di sepakati Sayuti Melik mengetik menyalin teks proklamasi, dan bendera yang di jahit oleh Fatmawati. Pagi harinya tanggal 17 Agustus 1945 di kediamannya Jalan Pegangsaan Timur 56 Soekarno sakit, acara di mulai pukul 10.00 pembacaan proklamasi oleh Soekarno di sambung pidato singkat tanpa teks. Akhirnya proklamasi terdengar oleh rakyat melalui radio dan dari mulut ke telinga.

Rabu, 14 Oktober 2015

Kenangan yang Terus Menghantui di Panggung Teater



Kenagan tidak mungusik dan tidak  juga berisik, namun kenangan sulit untuk di lupakan. Di pagi hari nyonya membersihkan teras rumahnya teringat seseorang yang pernah hidup bersamanya. Dia menyapu halaman rumahnya, ada sesuatu didalam sapunya terbuang bersama debu. Memilah mana yang harus ia buang karena hasil serpihan kerikil, dan mana yang pernah penempel di di telapak kaki. Nyonya berusaha memperbaiki hari menjadi yang lebih baik lagi, namun nyonya nyonya masih teringat kenanan yang pernah ada didalam hidupnya.
Kenangan itu teringat setiap pagi, namun ia tidak suka dengan perkara kelelahan yang setiap kali menjadi pertanyaannya sendiri. Selesai menyapu halaman rumahanya ia kemudian masuk rumah bukan untuk beristirahat tapi untuk melihat pigura yang didalamnya ada foto-foto kenangan orang yan pernh hidup bersamanya. Nyonya membersihkan pigura-pigura itu, namun dia hafal kalau selalu ada debu-debu yang menempel di sana dan juga debu-debu yang berdiam di sudut ruang tamu.
Wajah nyonya sudah menggambarkan kalau dia penuh cinta dan kasih sayang ketika melihat pigura terlihat tangis membasahi kaca pigura, namun nyonya bersama kenangan tidak akan pernah bermusuhan. Nyonya lebih suka mengusap pigura dari pada cerita yang sudah berlalu, ada saksi dari tangis yang tumpah. Tiga pigura di ruang tamunya selalu mengingatkannya setiap pagi karena banyak terdapat kenangan di dalam figura itu. Bahkan nyonya tidak pernah mengijinkan pigura itu di geser dari paku-pakunya. Begitupun kenangan yang sudah terjadi di hidupnya.
Kemudian ia teringat tubuh seorang wanita yang tenggelam penuh ke dalam air, dengan aroma tubuh yang masih sama walaupun sudah berendam lama di sana. Dia  kehilangan tubuh yang wanita, Cuma aroma tubuh saja yang tertinggal di dalam air bak mandi yang wangi. Nyonya bertanya pada dirinya sendiri sendiri sambil menenggelamkan kepalanya ke air, wanita itu selalu ingin seperti ingin tau, pertanyaan adalah segalanya yang bisa meredakan remuk redam. Apapun yang ia cari jawabannya hanya wanita itu, andai ada jawaban lain juga adanya jawaban wanita itu. Itulah mengapa sang wanita selalu menjadi bayangan hitam.
Namun itu tidak pernah alasan dia cari, sedangkan selalu kehilangan tubuh sang wanita. Cuma aroma saja yang tertinggal karena sang wanita tidak pernah ada di sana. Nyonya merindukan sosok wanita, sedangkan wanita itu tetap di sana, pergi melangkah begitu saja membiarkan bercakap-cakap dengan bayangan. Nyonya hanya diam berdiri dalam air, ia membuang air yan muli keruh. Ketika sor ia muli berendam menenggelamkan seluruh tubunya, tidak ada tubuh lain di dalamnya. Setiap pagi dan siang nyonya mengusap pigura yang kini tergeletak lemah di atas bantal.
Setiap pagi menahan tangis, tetapi tidak pernah bisa membendungnya selalu lepas dari bendungannya. Jika malam tiba nyonya berbincang-bincang dengan dinding yang turut bermuram, entah mengapa selalu saja ada aroma tubuh. Nyonya beristirahat , isi kepalanya justru slalu ingat bau aroma itu selalu ada. Kepalanya bergeser mendekati lutut  yang terasa tulang-tulangnya, dia tidak tau banyak cerita tentang dongeng.
Dongeng itu adalah masa lalunya yang tercoret di dinding-dinding kamarnya, adalah 3tiga pigura yng terpajang di ruang tamunya. Nyonya cuma seorang yang sibuk  menyapu teras setiap pagi  dan lelaki yang di cintainya hanyalah seonggok tubuh yang menghilang. Sepanjang malam kenagan itu dating menemani, seperti megutuk masa lalu. Nyonya menyingkirkan tiga pigura berjajar di ruang tamunya, tidak ingin lagi meletakkan jemarinya di atas sana. Nyonya  berharap kenangan itu akan turut masuk laci bersama pigura-pigura yang rapi didalamnya. Tanpa di lepaskan, tangan bergetar itu melepaskan diri. Ketika harapan sudah pupus wanita itu diam kaku di bak mandi untuk sekedar bercerita. Ia akhirnya teringat dan mengadunya pada dinding-dinding kamar, seperti kehilngan bicara ketika diminta untuk sekedar bercerita, ia tidak bisa bercerita.
Ia merasa yang paling bisa menceritakan segalanya dan dengan sempurna, menceritakan masa lalu menggambarkan masa depan yang membuat ia lupa bahwa kenangan membayanginya. Kenangan itu hadir lagi dengan sempurna, ia sudah lelah mencari dan mengeruk cerita dari bibir dimana ayah dan sayap emasnya. Mucul perlahan gunung kelut kesah yang sulit di runtuhkan. Wanita itu hanya menggeleng dan menenggelamkan seluruh tubuhnya dalam air. Putus asa segala keputus asaan, ayah dan sayap emas itu pergi dibawa serdadu. Ayahnya harus di bawa pergi , karena ia akhirnya memutuskan pergi juga bersama wanita yang suka bercinta.
Nyonya membuka laci di mana pigura itu ditata rapi, setelah pigura itu dipindahkan, maka kenangan akan turut pergi, namun nyonya sering membuka laci di mana pigura-pigura itu tergeletak. Ketika kenangan itu juga berganti-ganti di hadapannya. Ketika lampu kamar yang putih terang dan dinding-dinding penuh coretan sebagai tempat membuang kenangan bergumam-gumam tentang bak mandi dan isinya. Nyonya mendengar bisikan-bisikan itu dari pendar lampu kamarnya. Nyonya teruus mengusap pigura dan tidak menutup laci itu, menguat semenjak ia berusaha menjauhkannya. Pigura itu sudah tidak ada di sana namun matanya seperti masih saja menempel benda itu pada tempatnya. Ternyata kenangan jauh lebih mengerikan dari yang ia duga.
Anak lelaki yang ditunggu Nyonya masih belum menyadari bahwa wanita lain telah membuatkannya sebuah kenangan. Ia mengeruk tanah sedalam-dalamnya dan mengubur wanita itu hidup-hidup, seolah bangkai tikus yang membusuk. Anak lelaki yang ditunggu-tunggu itu masih belom menyadari juga bahwa Nyonya menghabiskan sisa masa hidup dengan mengusap pigura berisi gambar wajahnya yang tersenyum bahagia. Ia hanya tau bahhwa hatinya patah, ketika mengenang wanita dan aroma tubuhnya tertinggal di dalam bak mandinya.
Mereka berdua mungkin bersekutu untuk menghadirkan kenangan. Kenangan itu dating dengan undangan yang tidaak di sengaja, dan setelah itu semakin tumbuh besar. Tidak pernah ada yang mampu menemukan cara bagaimana kenangan itu dimusnahkan, kenangan bermula dan tidak akan berakhir bagaimanapun kita membuangnya adalah percuma. Kenangan itu turut pergi bukannya surut ia semakin menjadi.
Yang mungkin kekal di dunia ini selain tuhan hanyalah kenangan. Ketika jejak itu di teras rumahnya, Nyonya tidak bisa memilih akan menangis sedih atau bahagia karena kenagan seketika seperti menepi. Karena kenangan ada di depan mata, satu-satunya  yang mengerti hanyalah bekas pigura yang pernah tergantung di ruang tamunya dan debu-debu yang masih setia menempel di sana. Setiap insane akan merasa diancam masa lalunya, masa yang dilaluinya dan masa depan yang menantinya. Kenangan yang sangat bungkam setiap apa yang di lalui akan merasa diancam oleh apa yang ia lalui sendiri. Cara terbaik memberi ancaman pada kenangan dengan menerima, menyaksikan, dan perlapang dada. Bahwa kenangan itu akan ada di tempat sisa hidupmu.