Bapak Hendrik, mendengar nama itu teringat mengajar beliau
yang serius tapi menyenangkan. Tidak heran sebagian siswa mengidolakan beliau.
Beliau menjadi guru tak semudah membalikan telapak tangan. Kesuksesan yang
beliau rasakan sekarang berkat perjuangan dalam perjalanan hidupnya sejak
kecil. Guru satu ini memiliki nama lengkap Hendrik Eko Priyanto. Lahir di desa
Sinanggul, 26 April 1971. Beliau merupakan anak pertama dari empat bersaudara
yang lahir dari pasangan Bapak Kusnadi dan Ibu Sofiyatun. Bapaknya bekerja
sebagai petani dan ibunya sebagai ibu
rumah tangga. Walau dengan keadaan keluarga yang pas-pasan, namun itu semua
tidak mematah semangat beliau untuk mengukir prestasi yang gemilangnuntuk masa
depannya.
Bapak
Hendrik sering dipanggil Si Doel oleh orang sekitarnya. Di balik panggilan Si
Doel bukanpanggilan asal-asalan. Beliau dipanggil Si Doel karena di anggap sebagai orang yang
tidak diperhitungkan, miskin, tapi oleh
masyarakat sekitar mengatakan pintar. Dengan seemangat yang tinggi serta sarana
dan prasarana yang seadanya beliau belajar dengan sungguh-sungguh sambil kerja.
Semua dilakukan sejak SD kelas lima dan enam. Jangan salah ini semua beliau
lakukan hanya untuk membantu orangtuanya yang hanya mengandalkan kebun untuk
menghidupi keluarga. Setiap pulang sekolah beliau tidak bermain dengan teman
sebayanya, melainkan bekerja di antaranya ukir dan mahat, membantu Bapaknya di
kebun serta buruh di rumah tetangga seperti membersihkan kamar mandi, mengecat,
membersihkan rumah, dan lain-lain.
Ada hal
yang unik dari beliau. Selama enam tahun tahu di SD beliau hanya mengunakan
sepasang sepatu dan hanya satu seragam. Karena terkungkung dengan sepatu yang
ukurannya kecil, membuat kakinya berukuran kecil dan tidak proposionaal sampai
sekarang ini. Sepatu yang digunakan beliau hanya berukuran 38. Ada hal yang
begitu berkesan bagi beliau yaitu merupakan orang pertama yang masuk sekolah
umum di Desa Sinanggul, karena sebagian besar masuk pesantren atau madrasah.
Dengan hidup mandiri menjadikan mental beliau kuat dalam menghadapi kehidupan,
sehingga menghadapi model penderitaan seperti apapun pasti bisa. Di usia SMP
beliau terkenal anak yang nakal dan saat kelas tiga menjadi baik. Setelah
memasuki SMA semuanya menjadi berubah. Beliau menjadi pribdi yang pendiam, tapi
fokus belajar. Karena mendapat sedikit ancaman dari Orangtua “Sedikit
membohongi orang tua maka harus keluar dari SMA”.
Orang
tua juga selalu mendorong untuk sekolah dan melarangnya untuk bekerja dan harus
bersekolah, karena anak yang sudah bisa bekerja jadi malas belajar. Ada hal
unik lai dari beliau, selama tiga tahun di SMA presensinya hadir 100%. Beliau
juga lulus dari SMA dengan rangking 3 paralel dari 120 siswa. Setelah mendapat ijazah SMA dengan prestasi yang
membanggakan, beliau berkeinginan untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi.
Melihat keadaan keluarga yang kurang, dengan minta izin orang tua pasti tidak
disetujui. Akhirnya beliau memilih strategi mendaftar kuliah dulu, setelah
diterima baru bilang dengan orang tua. Beliau yakin dengan semangat yang besar,
Allah pasti member jalan. Memanfaatkan uang hasil sunatan adiknya, yaitu Rp
20.000 beliau gunakan untuk membeli formulir pendaftaran seharga Rp 18.000 dan
sisanya digunakan sebagai ongkos untuk ke Semarang.
Dan
hasilnya beliau diterima di IKIP Negeri Semarang di fakultas Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Sosial jurusan Pendidikan Sejarah, sehingga mau tidak mau orang
tuanya harus membiayai. Dengan perjuangan beliau yang begitu besar, akhirnya
orang tuanya memutuskan untuk membagi hak waris. Beliau mendapat warisan berupa
sepetak tanah yang digunakan beliau untuk membiayai kuliah. Namun,sepetak tanah
itu hanya cukup sampai semester IV. Setelah kehabisan dana, beliau memanfaatkan
beberapa ketrampilannya seperti potong rambut, hibur teman dengan banyolan,
berbagai macam seni dan olahraga sehingga memudahkan untuk kuliah. Makanpun
jarang beli karena ditraktir teman-temannya yang merupakan anak orang kaya,
namun tidak bisa memanfaatkan fasilitas yang dimiliki. Salah satu teman beliau
yang sakit Leukimia yaitu Kukuh Ary Wicaksono dan karena penyakitnya beliau
selalu berusaha menghibur temannya dan tidak cek darah lagi. Dan temannya masih
hidup sampai sekarang. Sehingga tiap pulang ada yang jemput dan penginapanpun
ada yang nanggung.
Suatu
hari beliau juga bertemu dengan juara satu Catur Putri, mereka bermain bersama
dan bapak Hendrik dapat mengalahkan. Beliau akhirnya mendapat buku kuiah gratis
dari cewek itu. Semester VII beliau mengikuti beasiswa Ikatan Dinas karena
mempunyai prestasi. Beliau lulus dengan tiga besar dan menjadi wisudawan
terbaik tahun 1994 dari 38 orang dalam satu angkatan dan yang lulus hanya enam
orang termasuk beliau. Beliau lulus tahun 1994 dan langsung ditempatkan di SMAN
1 Welahan sampai sekarang ini Dari 18 orang yang ikut Ikatan Dinas semua
ditempatkan di Nusa Tenggara Barat, namun bapak Hendrik belum sendiri. Setelah
diurus ke Jakarta ternyata ada sedikit kesalahan dengan ijazahnya. Dan
kebetulan waktu penempatan Ikatan Dinas sudah pindah ke Jawa Tengah dan
kebetulan di Jepara ada pembangunan gedung baru yaitu SMAN 1 Welahan. Akhirnya
beliau di tempatkan di SMAN 1 Welahan. Dari itu, beliau menyadari bahwa ridho
oran tua sangat berarti, karena sebelumnya orang tua beliau tidak rela jika beliau
kerja jauh dari keluarga.