Sabtu, 22 September 2018

Autobiografi

         Nama saya  Nilna Zakkiya ‘Azmi, dari informasi yang saya dapat dari kedua orang tua, saudara-saudara dan akta, saya lahir di Jepara, 17 November 1996. Anak pertama dari dua bersaudara. Ayah saya Muhammad Yazid dan Ibu saya Tatik Zuliyanti. Dulunya Ayah adalah seorang lulusan ponpes sekarang mengajar di Madrasah dan Ibu seorang pembuat roti dan ibu rumah tangga. Adik saya laki-laki yang bernama Fatih Zakka Nailinnaja masih bersekolah kelas 12 di SMA Sultan Agung 1 Kalinyamatan.
            Pada saat umur 7 tahun, saya memulai karir pendidikan di jenjang SD Negeri 1 Gidangelo, yang berada di desa Gidangelo, yang menjadi salah satu guru saya favorit adalah bapak Mugiyarto.S.Pd. Saya selesai pada tahun ajaran 2008/2009 jenjang SD dan mendapatkan ijasah. Banyak permainan tradisional yang saya kenal saat masih duduk di sekolah dasar. Itu membuat yang membuat jarang di rumah dan selalu dicari orang tua saya ketika lupa waktu. Apalagi jika hari minggu, pasti dari pagi hingga siang saya tidak pernah di rumah. Itu merupakan kenangan yang tidak pernah bisa dilupakan.
            Saya melanjutkan ke jenjang selanjutnya di SMP, saat SMP saya bersekolah di SMP  Negeri 2 Welahan, yang berada di desa Kalipucang, tepatya berjarak ± 2 Km dari  di mana SD saya berada. Pertama masuk saya mendapatkan banyak teman baru dari beberapa sekolah dasar yan berada di sekitar SMP, tetapi saya belum megenal nama teman satu kelas. Namun seiring berjalannya waktu saya mulai mengenal nama-nama teman saya. Banyak sekali kenangan-kenangan yang saya dapatkan ketika sekolah di SMP. Dari yang nakal, balapan motor. Sampai taubat saat kelas 9 karena mau menghadapi ujian nasioanal. Saya menimba ilmu selama tiga tahun lamanya. Setelah tiga tahun  tepatnya pada 2011/2012 saya menyelesaikan pendidikan di SMP dan saya mendapatkan izajah SMP.
            Kemudian di lanjutkan kejenjang berikutnya yaitu di SMAN 1 Welahan, yang berada di Kecamatan Welahan, disitulah Saya mengenakan seragam putih abu-abu dan menuntut ilmu selama tiga tahun, di SMAN 1 Welahan ini Saya mendapatkan banyak pengalaman di organisasi, ketika saya masuk kelas X saya ikut seleksi disitu saya terpilih seleksi menjadi calon wakil ketua OSIS bersama kakak kelas saya yang menjadi calon ketua OSIS. Sebelum pemilihan saya bersama kakak kelas saya berorasi di depan teman-teman satu sekolahan, disinilah pengalaman saya pertama berorasi di depan teman-teman satu sekolahan. Setelah itu pemilihan dilakukan, ada tiga calon pasangan ketua dan wakil ketua OSIS, setelah selesai pemilihan ternyata saya dan kakak kelas saya yang mendapatkan suara terbanyak.
            Dalam organisasi saya tahu tetang banyak hal-hal dan pengalaman baru, ada dua kegiatan yang menjadi kegiatan besar dan menjadi agenda tahunan yaitu Idul Adha, Festival Band, dan Futsal. Dari beberapa kegiatan, yang paling banyak mendapat pengalaman banyak dari Festival Band dan Tournament Futsal Se-Karesidenan, karena disitu saya mendapat pengalaman mencari sponsor, mengajukan izin ke Polres, mengantar surat undangan sampai ke Pati dan dalam kegiatan menjadi panitia Festival Band yang terbuka untuk umum. Banyak perubahan sikap yang saya rasakan selama belajar di SMAN 1 Welahan dan mental menjadi lebih luar biasa dan tentunya semakin dewasa.
            Setelah saya menyelesaikan pendidikan di SMAN 1 Welahan pada tahun ajaran 2014/2015, saya ingin melanjutkan pendidikan dan ingin menjadi guru, karena saya termotivasi sama guru bahasa indonesia. Saya mendaftar di Universitas PGRI Semarang dengan mengerjakan test. Alhamdulillah pada waktu pengumuman saya diterima. Dari sini saya telah mengikuti pendidikan mulai tahun ajaran 2015/2016. Target Saya selesai pada tahun 2019 wisuda dengan IP tinggi, dan mudah-mudahan bisa tercapai dan akan menjadi seseorang yang sukses di kemudian hari.
            Selama menempuh S1 di Universitas PGRI Semarang saya mendapatkan pengalaman yang belum tentu didapatkan semua orang. Menempuh pendidikan di kota Semarang melatih hidup mandiri, yang dulunya tidak pernah mencuci pakaian menjadi mencuci pakaian sendiri, yang dulunya tidak pernah memasak menjadi masak sendiri walaupun hanya memasak nasi juga lauk-lauk yang sederhana. Selain itu juga dapat pengalaman berbicara di depan publik, bermain teater, menulis puisi dan masih banyak lagi yang berhubungan dengan aspek kebahasaan.

Minggu, 25 Desember 2016

Racun Generasi Bangsa

Saya menanggapi opini di Tribun Jateng, pada tanggal 23 Desember 2016 yang berjudul Ibu, Televisi dan Generasi Internet. Mencermati perkembangan siaran televisi dalam beberapa tahun terakhir ini, makin terasa bahwa perkembangan bidang siaran televisi dan pelaksanaannya tidak cukup mampu menghasilkan isi siaran yang sopan, bermartabat, mendidik dan menghibur secara sehat serta aman bagi anak maupun remaja. Stasiun televisi hendaknya memikirkan betul perkembangan generasi bangsa ini, tidak sekedar bermuara pada meraup keuntungan yang sebanyak-banyaknya, tanpa memikirkan nasib konsumennya. Stasiun televisi seharusnya ikut andil dalam mendidik generasi bangsa ini, supaya menjadi bangsa yang berkaraker, kepribadian timur, beretika, dan bermoral, karna nasib kemajuan bangsa ada pada pundak generasi muda. Tetapi pada kenyataannya sebagian stasiun televisi menyuguhkan tayangan-tayangan yang kurang berkualitas dan jika diamati akan menimbulkan dampak yang meracuni dan menggerus etika generasi muda bangsa. Kontrol terhadap tayangan televisi di masa ini dan masa depan perlu ditambah demi terciptaya bangsa yang berkarakter, beretika, dan berbudaya.
Cerita yang beratus-ratus episode dalam sinetron alur yang irasional sudah menjadi hal umum di persinetronan Indonesia. Kualitas jauh dari layak untuk di tonton, tetapi pada kenyataannya sinetron masih eksis ranah pertelevisian Indonesia. Cerita yang sering menonjolkan sisi kemewahan, perselingkuhan, iri, dengki, meengambil hak orang lain, anak sekolah yang bergeng, senior yang mengerjai juniornya, guru yang diceritakan sebagai sosok yang culun, pelajar membolos seekolah, berpesta di diskotik, saling menjatuhkan dan penindasan dengan melebihi batas kemanusiaan. Semua itu tidak lepas dari warna cerita di sinetron Indonesia.
Seorang peneliti bernama Dywer menyimpulkan bahwa media audio visual atau teleevisi mampu merebut 94% masuknya pesan-pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia, dengan cara ditransfer melalui mata dan telinga. Televisi mampu membuat orang mengingat 50% dari apa yan mereka lihat dan dengar di layar televisi walaupun hanya sekali ditayangkan. Atau secara umum orang akan mengingat 85% dari apa yang mereka lihat di televisi setelah tiga jam kemudian, dan 65% setelah tiga hari kemudian.
Maka dari itu penayangan sinetron dapat menabrak waktu belajar yaitu pukul 18.00-21.00, di mana waktu tersebut seharusnya digunakan untuk belajar. Tetapi karena sinetron telah membius jutaan penonton hingga tidak mau ketinggalan satu episode meskipun setiap episode menyuguhkan cerita yang tidak masuk akal tetap saja ditonton dengan mengorbankan waktu belajar. Hal yang semacam itu harus diatasi dengan peran orang tua sebagai manager waktu bagi putra-putrinya.
Sinetron sedikit demi sedikit dapat merubah moral, budaya, etika, gaya berpakaian cara berbicara hingga kebiasaan-kebiasaan para remaja, karena jiwa remaja masih labil dan masih mencari jati diri. Hal tersebut tidak boleh dibiarkan terus menerus ada dalam jiwa remaja, arena hal tersebut merupakan hal yang menyimpang dan berbanding terbalik dengan kepribadian bangsa Indonesia
Remaja perlu ditolong dari pembodohan sinetron. Memang tidak mudah jika sudah terlanjur melekat, tetepi kembali pada masing-masing individu. Tentunya sebagai remaja tidak ingi ketinggalan zaman dan selalu ingin dianggap gaul, tetapi meniru hal-haal yang tidak sesuai dengan budaya timur bukanlah caara untuk menjadi yang diharapkan. Nilai moral, budaya, dan etika sebagai bangsa Indonesia perlu dijunjung tinggi agar eksisnya sinetron yang menjadi menu wajib pertelevisian yang menimbulkan dampak negatif dapat ternetralisir dengan kepandaian remaja menyaring mana yang tidak sesuai dan mana yang boleh di contoh. Remaja juga perlu memperhatikan dan mematuhi kode yang ada di pojok televisi yaitu BO, SU, R, A, D, yaitu kode yang menunjukkan untuk siapa tayangan televisi disajikan.
Mengganti menu sinetron dengan menonton yang lebih bermanfaat misalnya berita dan acara realita kehidupan seseorang yang dapat dijadikan tauladan, agar mengerti seperti apa kehidupan sebenarnya sehingga menjadikan remaja dapat menghargai seseorang. Acara yang menyajikan tentang prestasi, jasa, bakat dan perbuatan baik seseorang juga layak untuk di tonton, seperti Kick Andi, Laptop Si Unyil, dan sebagainya. Acara tersebut sedikit banyak mampu memberikan motivasi kepada para penonton remaja khususnya, sehingga mereka dapat tergugah mengolah bakat dan minat untuk mengembangkan prestasi.
Memang memainkan sinetron, membuat sinetron, menulis alur cerita sinetron, dan memproduksi sinetron bukan hal mudah. Dibutuhkan kerja keras dan memutar otak untuk mendapatkan cerita yang menarik. Namun, para remaja yang posisinya sebagai konsumen layak mendapatkan tontonan yang berkualitas. Sebaiknya para produser menyuguhi konsumen dengn tontonan yang berkualitas, bermutu, mempunyai nilai moral yang jelas, dan mendidik. Agar generasi muda bangsa ini dapaat memperoleh pengetahuan sekaligus belajar etika dan jati diri bangsa tetap terjaga dengan aman. Hentikan tayangan pembodohan agar dampaknya tidak meracuni generasi muda bangsa, sehinggaa bangsa dapat melepaskan diri dari problematikaa ekonomi, sosial, dan politik. Terciptanya bangsa yang maju, teerwujudnya kesejahteraan, etika yang indah serta kemakmuran yang dicita-citakan dan diidam-idamkan bangsa sejak dulu.

Pemuda Gerakan Pembangun

                   Semarang – Peringatan Sumpah Pemuda yang jatuh pada hari Jumat 28 Oktober 2016 kemarin, dirayakan oleh sejumlah mahasiswa Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) yang diselenggarakan dan tergabung dalam teater gema. Mereka sengaja menghadirkan aksi orasi diparkiran Gedung Utama dan disaksikan ratusan mahasiswa. Dalam aksi orasi itu, membangun pemuda-pemuda yang lupa akan sejarah dan menghadirkan gambaran betapa cerdiknya pejuang zaman dahulu termasuk Muh Yamin, dalam merusmuskan Sumpah Pemuda.
           Padahal banyak tantangan untuk membentuk sumpah yang menjadi awal kebangkitan semangat para pemuda. “Meski saat ini perjuangan tidak lagi dalam arti melawan penjajahan, namun bisa dilakukan dengan hal lain. Peringatan sengaja digelar agar para pemuda, khususnya mahasiswa di kampus, mampu meneruskan perjuangan para pejuang. Semangat Sumpah Pemuda bisa dilakukan dengan lebih mengedepankan keilmuan para mahasiswa untuk kemajuan bangsa. Karena bagaimanapun, mahasiswalah yang nantinya menjadi pemimpin di masa depan.
            Melalui kualitas dan kemampuan yang dimilikinya pemuda harus mempunyai keyakinan untuk dapat menguasai dunia, harus siap bersaing dan berkompetisi. Pemuda harus mau untuk terus belajar dan belajar untuk memenangkan kompetisi. Untuk mampu tampil sebagai pelopor perubahan dalam kemajuan pmuda hars mampu menggenggam dunia dengan kreativitas dan inovasinya. Dalam pemikirannya, pemuda seharusnya sudah memiliki kondisi fisik yang baik serta mental yang kuat untuk modal berkreasi membangun bangsa.
            Orasi yang dilaksanakan mengajak seluruh mahasiswa sebagai pemuda untuk tak henti-hentinya berupaya dab berikhtiar memajukan negeri ini, “Pemuda adalah harapan bangsa”, maka sudah seharusnya memiliki kesehatan fisik dan mental yang baik. Jadi mari kuatkan tekad dan usaha untuk membangun bangsa dan negeri dengan akal yang sehat, jiwa yang sehaat untuk meraih masa depan.
            Hanya kesungguhan yang akan mengantarkan bangsa ini menggenggam dunia, melalui para pemuda. Pemuda kekinian harus mampu menjawab semua tantangan zaman. Pemerintah diharapkan member beasiswa gratis pada mahasiswa berprestasi. Melaui program tersebut dimaksudkan dapat memberikan bekal ilmu jenjang pendidikan tinggi. Harapannya, pemuda kelak bisa mengabdikan diri untuk membangun bangsa ini.
Jangan Hanya Jadi Penonton
Peringatan Sumpah Pemuda tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa. Sekelompok pegiat budaya juga menyelenggarakan refleksi 88 tahun Sumpah Pemuda. Contoh, bertempat di Dukuh Putat, Desa Sumanding, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara. Bertujuan untuk membangun kesadaran bersama para pemuda agar tidak menjadi penonton atau bahkan menghujat pembangunan negeri. Kegiatan ini diikuti sekitar 175 dari berbagai desa. Ada tiga pembicara yang didatangkan dalam kegiatan yaitu Muhammad Iskak Wijaya, Hadi Pureanto dan Suharno yang juga menampilkan seni tradisi. “Pemuda wajib hadir dalam setiap langkah untuk mencapai kemajuan bangsa, bukan menjadi penonton apalagi penghujat”.
Muhammad Iskak Wijaya mengajak para pemuda untuk bangun dan bangkit dari tidurnya. Pegiat budaya yang turut menginisiasi lahirya Festival Kartini Jepara berharap para pemuda untuk mencurahkan potensi dirinya. Dia juga mengungkapkan potensi alam juga harus ditingkatkan. Karena itu dia mengajak pemuda untuk kembali mencintai bidang pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan. Pemuda saat ini kurang minat dalam bidang tersebut. Padahal itu juga potensi yang mempengaruhi kemajuan sebuah bangsa.
Hadi Pureanto yang dikenal sebagai dalang kondang, mengajak pemuda utnuk mencintai kembali budaya local. “Seyogyanya pemuda tidak kehilangan jati diri dan jangan sampai seni tradisi menjadi mati suri”. Sementara Suharno, Ketua Paguyuban Seni pendalangan mengaku cemas semakin menurunnya minat generasi muda pada seni budaya tradisi. Padahal pelestarian ini sangat terkait dengan karakter bangsa.
Kesenian budaya pada saat ini kurang dilestarikan dengan baik oleh pemuda. Dibuktikan dengan sekarang ini banyak tidak menyenag, bahkan tidak pernah melihat atau tidak mengenal seni budaya negeri ini dengan keanekaragaman dan kelebihan setiap daerah. Untuk mengenal dan membangun berkepribadian budaya seni tradisional dapat diadakan agenda rutin di setiap kegiatan baik pada eksternal dan internal jurusan maupun fakultas. Contoh dengan mengadakan kegiatan Festival Budaya setiap memperingati bulan bahasa.
 Bukan hanya kurangnya pelestarian seni budaya oleh pemuda. Pemuda saat ini juga kian meluntur rasa kecintaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Padahal itu juga menjadi alat pembangunan bangsa ini.Seharusnya pemuda bersumpah pada dirinya sendiri “Saya bangga menjadi bangsa Indonesia, saya bangga bertanah airkan Indonesia, dan berjanji mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hingga mat, bukan basa-basi”. Lunturnya kecintaan kepada Tanah Air lantaran minimnya pemahaman terhadap sejarah bangsa maupun sejarah Islam.
Minimnya bekal sejarah ini pula yang menyebabkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, sahabat, keluarga, pewarisannya (ulama), dan para pejuang berkurang. Dengan mempelajari sejarah Nabi Muhammad , sahabat, keluarga, pewaris nabi (ulama), dan sejarah bangsa, maka kecintaan pada bangsa akan semakin kuat. Adanya oknum yang sengaja menjauhkan dari sejarah ke dalam aliran tertentu, menjadi minimnya sejarah digenerasi muda. Mempelajari sejarah nabi, sahabat, walisongo dianggap syiah, sehingga akhirnya takut mempelajari sejarah. Padahal sejarah bagi generasi muda menjadi obor untuk modal membangun masa depan bangsa.
Untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus mampu memperkuat sejarah. Pelajari sejarah bangsa mulai tokoh-tokoh pembangun ekonomi, pertanian, ulama-ulama, dan pendahulu yang membangun bangsa. Bangsa ke depan maju atau tidak ada dipundaknya generasi muda. Sehingga jangan mempermalukan sesepuh-sesepuh bangsa ini. Persiapkan tanggung jawab dan menjawab tantangan umat dan bangsa. “Mari rapatkan barisan jangan memberikan kesempatan bagi oknum-oknum yang ingin memecah belah Indonesia”.

--- Nilna Zakkiya ‘Azmi, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas PGRI Semarang. ---