"MAWAS DIRI MENAKAR BERANI"
Saat kakek memimpin penghitungan suara pilkades. Papan tulis
untuk mencatat penghitungan suara tiba-tiba hilang. Kepala keamanan ditanya
tidak tahu. Begitu juga dengan Sodrun ketika ditanya malah salah tangkap merasa
dituding sebagai biang hilangnya papan tulis. Namun papan tulis itu ternyata
disimpan kembali oleh Suto Coro sebagai kepala rumah tangga kelurahan. Dia
tidak merasa bersalah menyimpan kembali papan tulis itu . Terjadi perdebatan
sengit antara Suto Coro dan Mbah Sidik yang berakhir dengan kesanggupan Suto
Coro meminjamkan papan tulis.
Parjo memberikan hasil penghitungan suara kepada kakek yang
lagi sibuk mencari papan tulis. Kakek setelah itu membacakan hasil penghitungan
suara yang di menangkan oleh Somad sebagai pemenang pilkades. Somad diminta
menandatangani berita acara sebagai pemenang, kemdian kakek meminta bonus pemenangan
kepada Somad.
Somad mengadakan hiburan dalam rangka tasyakuran kemenangan
sebagai lurah baru Desa Bangunjiwo. Sederetan artis di datangkan di atas
panggung untuk menghibur penonton. Tiba-tiba Jhony naik ke atas panggung. Dia memprotes
kemenangan Lurah Somad yang dianggap curang. Apa jadinya desa ini jika dipimpin
oleh orang yang sejak berangkat meraih jabatan telah melakukan kecurangan. Kelak
saat memimpin pasti juga akan tega melakukanyang lebih dari iitui. Jhony
mempengaruhi massa agar bergerak menegakkan kebenaran dan keadilan dengan
menggagalkan hasil pilkades.
Seorang yang mabuk merasa terusik oleh Jhony. Dia segera
naik ke atas panggung meminta Jhony berhenti berbicara, dia menantang berkelah
orang yang mabuki. Tapi pemuda pemabuk itu menanggapi dengan senyum sinis. Ia
menegaskan bahwa dirinya adalah sang pemabuk netral. Jhony yang merasa terdesak
dalam perdebatan itu langsung menyerang Kampret. Perkelahian keduanya memicu
tawur massa.
Karyo
mendatangi Pak Gendut seorang anggota polisi, Mbah Modin, Pak Somad, dan Parjo.
Karyo
langsung memarahi semua orang yang tidak bergerak apa-apa seakan menikmati kerusuhan
yang sedang terjadi. Pak Gendut disuruh agar bergerak meredam kerusuhan.
Karyo bingung. Dia mendesak Pak Somad sebagai lurah yang
baru harus bisa mengendalikan situasi. Pak Somad berkata, karena pejabat baru
maka belum menguasai masalah. Dia perlu mempelajari situasi dan kondisi dahulu,
berkoordinasi, baru bisa menentukan tindakan yang harus diambil.
Pak Karyo berkata “Waaaa… rakyate selak modar, Pak!”. Calon
pemimpin sebelum menjabat seharusnya sudah lebih dulu menguasai masalah, bukan
menjabat dulu baru mempelajari masalah. Kalau sikap dan pola pikir calon-calon
pemimpin di negeri ini seperti itu, mustahil ada pemimpin yang benar-benar
menguasai masalah dan mampu menyelesaikannya. Kaderisasi pemimpin di negara ini
memang benar-benar bermasalah.
Terakhir Karyo berbicara kepada anggota TNI, agar ambil
inisiatif bergerak meredam kerusuhan. Parjo berkata, bukan ranah tugas dan
wewenangnya. Tugas dan wewenangnya ada di wilayah pertahanan dan keamanan
negara. Urusan keamanan adalah tugas kepolisian. TNI hanya punya wewenang membantu
polisi kalau ada intruksi dari pihak kepolisian. Jika bergerak sendiri, TNI
akan menyalahi prosedur dan tentu akan dipersalahkan oleh semua orang. Karyo
sudah tak habis pikir. Di kerusuhan itu, rakyat saling berbenturan. Setiap saat
nyawa bisa melayang tanpa mau menunggu keputusan prosedur hukum.
Kampret tiba-tiba
muncul tidak mempermudah penyelesaian
masalah tapi justru memperumit penyelesaian masalah. Orang cenderung menghindar
dari pekerjaan berat. Anehnya kita berkelahi mati-matian untuk memperebutkan pekerjaan
yang berat. Betapa hebatnya bangsa ini yang ternyata dipenuhi manusia-manusia
super yang berebut siap menanggung beban beratnya kekuasaan.