Kenagan tidak mungusik dan
tidak juga berisik, namun kenangan sulit untuk di lupakan. Di pagi hari
nyonya membersihkan teras rumahnya teringat seseorang yang pernah hidup
bersamanya. Dia menyapu halaman rumahnya, ada sesuatu didalam sapunya terbuang
bersama debu. Memilah mana yang harus ia buang karena hasil serpihan kerikil,
dan mana yang pernah penempel di di telapak kaki. Nyonya berusaha memperbaiki
hari menjadi yang lebih baik lagi, namun nyonya nyonya masih teringat kenanan
yang pernah ada didalam hidupnya.
Kenangan itu teringat setiap pagi,
namun ia tidak suka dengan perkara kelelahan yang setiap kali menjadi
pertanyaannya sendiri. Selesai menyapu halaman rumahanya ia kemudian masuk
rumah bukan untuk beristirahat tapi untuk melihat pigura yang didalamnya ada
foto-foto kenangan orang yan pernh hidup bersamanya. Nyonya membersihkan
pigura-pigura itu, namun dia hafal kalau selalu ada debu-debu yang menempel di
sana dan juga debu-debu yang berdiam di sudut ruang tamu.
Wajah nyonya sudah menggambarkan
kalau dia penuh cinta dan kasih sayang ketika melihat pigura terlihat tangis
membasahi kaca pigura, namun nyonya bersama kenangan tidak akan pernah
bermusuhan. Nyonya lebih suka mengusap pigura dari pada cerita yang sudah
berlalu, ada saksi dari tangis yang tumpah. Tiga pigura di ruang tamunya selalu
mengingatkannya setiap pagi karena banyak terdapat kenangan di dalam figura
itu. Bahkan nyonya tidak pernah mengijinkan pigura itu di geser dari
paku-pakunya. Begitupun kenangan yang sudah terjadi di hidupnya.
Kemudian ia teringat tubuh seorang
wanita yang tenggelam penuh ke dalam air, dengan aroma tubuh yang masih sama
walaupun sudah berendam lama di sana. Dia kehilangan tubuh yang wanita,
Cuma aroma tubuh saja yang tertinggal di dalam air bak mandi yang wangi. Nyonya
bertanya pada dirinya sendiri sendiri sambil menenggelamkan kepalanya ke air,
wanita itu selalu ingin seperti ingin tau, pertanyaan adalah segalanya yang
bisa meredakan remuk redam. Apapun yang ia cari jawabannya hanya wanita itu,
andai ada jawaban lain juga adanya jawaban wanita itu. Itulah mengapa sang
wanita selalu menjadi bayangan hitam.
Namun itu tidak pernah alasan dia
cari, sedangkan selalu kehilangan tubuh sang wanita. Cuma aroma saja yang
tertinggal karena sang wanita tidak pernah ada di sana. Nyonya merindukan sosok
wanita, sedangkan wanita itu tetap di sana, pergi melangkah begitu saja
membiarkan bercakap-cakap dengan bayangan. Nyonya hanya diam berdiri dalam air,
ia membuang air yan muli keruh. Ketika sor ia muli berendam menenggelamkan
seluruh tubunya, tidak ada tubuh lain di dalamnya. Setiap pagi dan siang nyonya
mengusap pigura yang kini tergeletak lemah di atas bantal.
Setiap pagi menahan tangis, tetapi
tidak pernah bisa membendungnya selalu lepas dari bendungannya. Jika malam tiba
nyonya berbincang-bincang dengan dinding yang turut bermuram, entah mengapa
selalu saja ada aroma tubuh. Nyonya beristirahat , isi kepalanya justru slalu
ingat bau aroma itu selalu ada. Kepalanya bergeser mendekati lutut yang
terasa tulang-tulangnya, dia tidak tau banyak cerita tentang dongeng.
Dongeng itu adalah masa lalunya yang
tercoret di dinding-dinding kamarnya, adalah 3tiga pigura yng terpajang di
ruang tamunya. Nyonya cuma seorang yang sibuk menyapu teras setiap
pagi dan lelaki yang di cintainya hanyalah seonggok tubuh yang
menghilang. Sepanjang malam kenagan itu dating menemani, seperti megutuk masa
lalu. Nyonya menyingkirkan tiga pigura berjajar di ruang tamunya, tidak ingin
lagi meletakkan jemarinya di atas sana. Nyonya berharap kenangan itu akan
turut masuk laci bersama pigura-pigura yang rapi didalamnya. Tanpa di lepaskan,
tangan bergetar itu melepaskan diri. Ketika harapan sudah pupus wanita itu diam
kaku di bak mandi untuk sekedar bercerita. Ia akhirnya teringat dan mengadunya
pada dinding-dinding kamar, seperti kehilngan bicara ketika diminta untuk
sekedar bercerita, ia tidak bisa bercerita.
Ia merasa yang paling bisa
menceritakan segalanya dan dengan sempurna, menceritakan masa lalu
menggambarkan masa depan yang membuat ia lupa bahwa kenangan membayanginya.
Kenangan itu hadir lagi dengan sempurna, ia sudah lelah mencari dan mengeruk
cerita dari bibir dimana ayah dan sayap emasnya. Mucul perlahan gunung kelut
kesah yang sulit di runtuhkan. Wanita itu hanya menggeleng dan menenggelamkan
seluruh tubuhnya dalam air. Putus asa segala keputus asaan, ayah dan sayap emas
itu pergi dibawa serdadu. Ayahnya harus di bawa pergi , karena ia akhirnya
memutuskan pergi juga bersama wanita yang suka bercinta.
Nyonya membuka laci di mana pigura
itu ditata rapi, setelah pigura itu dipindahkan, maka kenangan akan turut
pergi, namun nyonya sering membuka laci di mana pigura-pigura itu tergeletak.
Ketika kenangan itu juga berganti-ganti di hadapannya. Ketika lampu kamar yang
putih terang dan dinding-dinding penuh coretan sebagai tempat membuang kenangan
bergumam-gumam tentang bak mandi dan isinya. Nyonya mendengar bisikan-bisikan
itu dari pendar lampu kamarnya. Nyonya teruus mengusap pigura dan tidak menutup
laci itu, menguat semenjak ia berusaha menjauhkannya. Pigura itu sudah tidak
ada di sana namun matanya seperti masih saja menempel benda itu pada tempatnya.
Ternyata kenangan jauh lebih mengerikan dari yang ia duga.
Anak lelaki yang ditunggu Nyonya
masih belum menyadari bahwa wanita lain telah membuatkannya sebuah kenangan. Ia
mengeruk tanah sedalam-dalamnya dan mengubur wanita itu hidup-hidup, seolah
bangkai tikus yang membusuk. Anak lelaki yang ditunggu-tunggu itu masih belom
menyadari juga bahwa Nyonya menghabiskan sisa masa hidup dengan mengusap pigura
berisi gambar wajahnya yang tersenyum bahagia. Ia hanya tau bahhwa hatinya
patah, ketika mengenang wanita dan aroma tubuhnya tertinggal di dalam bak
mandinya.
Mereka berdua mungkin bersekutu
untuk menghadirkan kenangan. Kenangan itu dating dengan undangan yang tidaak di
sengaja, dan setelah itu semakin tumbuh besar. Tidak pernah ada yang mampu
menemukan cara bagaimana kenangan itu dimusnahkan, kenangan bermula dan tidak
akan berakhir bagaimanapun kita membuangnya adalah percuma. Kenangan itu turut
pergi bukannya surut ia semakin menjadi.
Yang mungkin kekal di dunia ini
selain tuhan hanyalah kenangan. Ketika jejak itu di teras rumahnya, Nyonya
tidak bisa memilih akan menangis sedih atau bahagia karena kenagan seketika
seperti menepi. Karena kenangan ada di depan mata, satu-satunya yang
mengerti hanyalah bekas pigura yang pernah tergantung di ruang tamunya dan
debu-debu yang masih setia menempel di sana. Setiap insane akan merasa diancam
masa lalunya, masa yang dilaluinya dan masa depan yang menantinya. Kenangan
yang sangat bungkam setiap apa yang di lalui akan merasa diancam oleh apa yang
ia lalui sendiri. Cara terbaik memberi ancaman pada kenangan dengan menerima,
menyaksikan, dan perlapang dada. Bahwa kenangan itu akan ada di tempat sisa
hidupmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar