Rabu, 14 Oktober 2015

Kenangan yang Terus Menghantui di Panggung Teater



Kenagan tidak mungusik dan tidak  juga berisik, namun kenangan sulit untuk di lupakan. Di pagi hari nyonya membersihkan teras rumahnya teringat seseorang yang pernah hidup bersamanya. Dia menyapu halaman rumahnya, ada sesuatu didalam sapunya terbuang bersama debu. Memilah mana yang harus ia buang karena hasil serpihan kerikil, dan mana yang pernah penempel di di telapak kaki. Nyonya berusaha memperbaiki hari menjadi yang lebih baik lagi, namun nyonya nyonya masih teringat kenanan yang pernah ada didalam hidupnya.
Kenangan itu teringat setiap pagi, namun ia tidak suka dengan perkara kelelahan yang setiap kali menjadi pertanyaannya sendiri. Selesai menyapu halaman rumahanya ia kemudian masuk rumah bukan untuk beristirahat tapi untuk melihat pigura yang didalamnya ada foto-foto kenangan orang yan pernh hidup bersamanya. Nyonya membersihkan pigura-pigura itu, namun dia hafal kalau selalu ada debu-debu yang menempel di sana dan juga debu-debu yang berdiam di sudut ruang tamu.
Wajah nyonya sudah menggambarkan kalau dia penuh cinta dan kasih sayang ketika melihat pigura terlihat tangis membasahi kaca pigura, namun nyonya bersama kenangan tidak akan pernah bermusuhan. Nyonya lebih suka mengusap pigura dari pada cerita yang sudah berlalu, ada saksi dari tangis yang tumpah. Tiga pigura di ruang tamunya selalu mengingatkannya setiap pagi karena banyak terdapat kenangan di dalam figura itu. Bahkan nyonya tidak pernah mengijinkan pigura itu di geser dari paku-pakunya. Begitupun kenangan yang sudah terjadi di hidupnya.
Kemudian ia teringat tubuh seorang wanita yang tenggelam penuh ke dalam air, dengan aroma tubuh yang masih sama walaupun sudah berendam lama di sana. Dia  kehilangan tubuh yang wanita, Cuma aroma tubuh saja yang tertinggal di dalam air bak mandi yang wangi. Nyonya bertanya pada dirinya sendiri sendiri sambil menenggelamkan kepalanya ke air, wanita itu selalu ingin seperti ingin tau, pertanyaan adalah segalanya yang bisa meredakan remuk redam. Apapun yang ia cari jawabannya hanya wanita itu, andai ada jawaban lain juga adanya jawaban wanita itu. Itulah mengapa sang wanita selalu menjadi bayangan hitam.
Namun itu tidak pernah alasan dia cari, sedangkan selalu kehilangan tubuh sang wanita. Cuma aroma saja yang tertinggal karena sang wanita tidak pernah ada di sana. Nyonya merindukan sosok wanita, sedangkan wanita itu tetap di sana, pergi melangkah begitu saja membiarkan bercakap-cakap dengan bayangan. Nyonya hanya diam berdiri dalam air, ia membuang air yan muli keruh. Ketika sor ia muli berendam menenggelamkan seluruh tubunya, tidak ada tubuh lain di dalamnya. Setiap pagi dan siang nyonya mengusap pigura yang kini tergeletak lemah di atas bantal.
Setiap pagi menahan tangis, tetapi tidak pernah bisa membendungnya selalu lepas dari bendungannya. Jika malam tiba nyonya berbincang-bincang dengan dinding yang turut bermuram, entah mengapa selalu saja ada aroma tubuh. Nyonya beristirahat , isi kepalanya justru slalu ingat bau aroma itu selalu ada. Kepalanya bergeser mendekati lutut  yang terasa tulang-tulangnya, dia tidak tau banyak cerita tentang dongeng.
Dongeng itu adalah masa lalunya yang tercoret di dinding-dinding kamarnya, adalah 3tiga pigura yng terpajang di ruang tamunya. Nyonya cuma seorang yang sibuk  menyapu teras setiap pagi  dan lelaki yang di cintainya hanyalah seonggok tubuh yang menghilang. Sepanjang malam kenagan itu dating menemani, seperti megutuk masa lalu. Nyonya menyingkirkan tiga pigura berjajar di ruang tamunya, tidak ingin lagi meletakkan jemarinya di atas sana. Nyonya  berharap kenangan itu akan turut masuk laci bersama pigura-pigura yang rapi didalamnya. Tanpa di lepaskan, tangan bergetar itu melepaskan diri. Ketika harapan sudah pupus wanita itu diam kaku di bak mandi untuk sekedar bercerita. Ia akhirnya teringat dan mengadunya pada dinding-dinding kamar, seperti kehilngan bicara ketika diminta untuk sekedar bercerita, ia tidak bisa bercerita.
Ia merasa yang paling bisa menceritakan segalanya dan dengan sempurna, menceritakan masa lalu menggambarkan masa depan yang membuat ia lupa bahwa kenangan membayanginya. Kenangan itu hadir lagi dengan sempurna, ia sudah lelah mencari dan mengeruk cerita dari bibir dimana ayah dan sayap emasnya. Mucul perlahan gunung kelut kesah yang sulit di runtuhkan. Wanita itu hanya menggeleng dan menenggelamkan seluruh tubuhnya dalam air. Putus asa segala keputus asaan, ayah dan sayap emas itu pergi dibawa serdadu. Ayahnya harus di bawa pergi , karena ia akhirnya memutuskan pergi juga bersama wanita yang suka bercinta.
Nyonya membuka laci di mana pigura itu ditata rapi, setelah pigura itu dipindahkan, maka kenangan akan turut pergi, namun nyonya sering membuka laci di mana pigura-pigura itu tergeletak. Ketika kenangan itu juga berganti-ganti di hadapannya. Ketika lampu kamar yang putih terang dan dinding-dinding penuh coretan sebagai tempat membuang kenangan bergumam-gumam tentang bak mandi dan isinya. Nyonya mendengar bisikan-bisikan itu dari pendar lampu kamarnya. Nyonya teruus mengusap pigura dan tidak menutup laci itu, menguat semenjak ia berusaha menjauhkannya. Pigura itu sudah tidak ada di sana namun matanya seperti masih saja menempel benda itu pada tempatnya. Ternyata kenangan jauh lebih mengerikan dari yang ia duga.
Anak lelaki yang ditunggu Nyonya masih belum menyadari bahwa wanita lain telah membuatkannya sebuah kenangan. Ia mengeruk tanah sedalam-dalamnya dan mengubur wanita itu hidup-hidup, seolah bangkai tikus yang membusuk. Anak lelaki yang ditunggu-tunggu itu masih belom menyadari juga bahwa Nyonya menghabiskan sisa masa hidup dengan mengusap pigura berisi gambar wajahnya yang tersenyum bahagia. Ia hanya tau bahhwa hatinya patah, ketika mengenang wanita dan aroma tubuhnya tertinggal di dalam bak mandinya.
Mereka berdua mungkin bersekutu untuk menghadirkan kenangan. Kenangan itu dating dengan undangan yang tidaak di sengaja, dan setelah itu semakin tumbuh besar. Tidak pernah ada yang mampu menemukan cara bagaimana kenangan itu dimusnahkan, kenangan bermula dan tidak akan berakhir bagaimanapun kita membuangnya adalah percuma. Kenangan itu turut pergi bukannya surut ia semakin menjadi.
Yang mungkin kekal di dunia ini selain tuhan hanyalah kenangan. Ketika jejak itu di teras rumahnya, Nyonya tidak bisa memilih akan menangis sedih atau bahagia karena kenagan seketika seperti menepi. Karena kenangan ada di depan mata, satu-satunya  yang mengerti hanyalah bekas pigura yang pernah tergantung di ruang tamunya dan debu-debu yang masih setia menempel di sana. Setiap insane akan merasa diancam masa lalunya, masa yang dilaluinya dan masa depan yang menantinya. Kenangan yang sangat bungkam setiap apa yang di lalui akan merasa diancam oleh apa yang ia lalui sendiri. Cara terbaik memberi ancaman pada kenangan dengan menerima, menyaksikan, dan perlapang dada. Bahwa kenangan itu akan ada di tempat sisa hidupmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar