Saya
menanggapi opini di Tribun Jateng, pada tanggal 23 Desember 2016 yang berjudul
Ibu, Televisi dan Generasi Internet. Mencermati perkembangan siaran televisi
dalam beberapa tahun terakhir ini, makin terasa bahwa perkembangan bidang
siaran televisi dan pelaksanaannya tidak cukup mampu menghasilkan isi siaran
yang sopan, bermartabat, mendidik dan menghibur secara sehat serta aman bagi
anak maupun remaja. Stasiun televisi hendaknya memikirkan betul perkembangan
generasi bangsa ini, tidak sekedar bermuara pada meraup keuntungan yang
sebanyak-banyaknya, tanpa memikirkan nasib konsumennya. Stasiun televisi
seharusnya ikut andil dalam mendidik generasi bangsa ini, supaya menjadi bangsa
yang berkaraker, kepribadian timur, beretika, dan bermoral, karna nasib
kemajuan bangsa ada pada pundak generasi muda. Tetapi pada kenyataannya
sebagian stasiun televisi menyuguhkan tayangan-tayangan yang kurang berkualitas
dan jika diamati akan menimbulkan dampak yang meracuni dan menggerus etika
generasi muda bangsa. Kontrol terhadap tayangan televisi di masa ini dan masa depan
perlu ditambah demi terciptaya bangsa yang berkarakter, beretika, dan
berbudaya.
Cerita
yang beratus-ratus episode dalam sinetron alur yang irasional sudah menjadi hal
umum di persinetronan Indonesia. Kualitas jauh dari layak untuk di tonton,
tetapi pada kenyataannya sinetron masih eksis ranah pertelevisian Indonesia.
Cerita yang sering menonjolkan sisi kemewahan, perselingkuhan, iri, dengki,
meengambil hak orang lain, anak sekolah yang bergeng, senior yang mengerjai
juniornya, guru yang diceritakan sebagai sosok yang culun, pelajar membolos
seekolah, berpesta di diskotik, saling menjatuhkan dan penindasan dengan
melebihi batas kemanusiaan. Semua itu tidak lepas dari warna cerita di sinetron
Indonesia.
Seorang
peneliti bernama Dywer menyimpulkan bahwa media audio visual atau teleevisi
mampu merebut 94% masuknya pesan-pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia,
dengan cara ditransfer melalui mata dan telinga. Televisi mampu membuat orang
mengingat 50% dari apa yan mereka lihat dan dengar di layar televisi walaupun
hanya sekali ditayangkan. Atau secara umum orang akan mengingat 85% dari apa
yang mereka lihat di televisi setelah tiga jam kemudian, dan 65% setelah tiga
hari kemudian.
Maka
dari itu penayangan sinetron dapat menabrak waktu belajar yaitu pukul 18.00-21.00,
di mana waktu tersebut seharusnya digunakan untuk belajar. Tetapi karena
sinetron telah membius jutaan penonton hingga tidak mau ketinggalan satu
episode meskipun setiap episode menyuguhkan cerita yang tidak masuk akal tetap
saja ditonton dengan mengorbankan waktu belajar. Hal yang semacam itu harus
diatasi dengan peran orang tua sebagai manager waktu bagi putra-putrinya.
Sinetron
sedikit demi sedikit dapat merubah moral, budaya, etika, gaya berpakaian cara
berbicara hingga kebiasaan-kebiasaan para remaja, karena jiwa remaja masih
labil dan masih mencari jati diri. Hal tersebut tidak boleh dibiarkan terus
menerus ada dalam jiwa remaja, arena hal tersebut merupakan hal yang menyimpang
dan berbanding terbalik dengan kepribadian bangsa Indonesia
Remaja
perlu ditolong dari pembodohan sinetron. Memang tidak mudah jika sudah
terlanjur melekat, tetepi kembali pada masing-masing individu. Tentunya sebagai
remaja tidak ingi ketinggalan zaman dan selalu ingin dianggap gaul, tetapi
meniru hal-haal yang tidak sesuai dengan budaya timur bukanlah caara untuk
menjadi yang diharapkan. Nilai moral, budaya, dan etika sebagai bangsa
Indonesia perlu dijunjung tinggi agar eksisnya sinetron yang menjadi menu wajib
pertelevisian yang menimbulkan dampak negatif dapat ternetralisir dengan
kepandaian remaja menyaring mana yang tidak sesuai dan mana yang boleh di
contoh. Remaja juga perlu memperhatikan dan mematuhi kode yang ada di pojok
televisi yaitu BO, SU, R, A, D, yaitu kode yang menunjukkan untuk siapa
tayangan televisi disajikan.
Mengganti
menu sinetron dengan menonton yang lebih bermanfaat misalnya berita dan acara
realita kehidupan seseorang yang dapat dijadikan tauladan, agar mengerti
seperti apa kehidupan sebenarnya sehingga menjadikan remaja dapat menghargai
seseorang. Acara yang menyajikan tentang prestasi, jasa, bakat dan perbuatan
baik seseorang juga layak untuk di tonton, seperti Kick Andi, Laptop Si Unyil,
dan sebagainya. Acara tersebut sedikit banyak mampu memberikan motivasi kepada
para penonton remaja khususnya, sehingga mereka dapat tergugah mengolah bakat
dan minat untuk mengembangkan prestasi.
Memang
memainkan sinetron, membuat sinetron, menulis alur cerita sinetron, dan
memproduksi sinetron bukan hal mudah. Dibutuhkan kerja keras dan memutar otak
untuk mendapatkan cerita yang menarik. Namun, para remaja yang posisinya
sebagai konsumen layak mendapatkan tontonan yang berkualitas. Sebaiknya para
produser menyuguhi konsumen dengn tontonan yang berkualitas, bermutu, mempunyai
nilai moral yang jelas, dan mendidik. Agar generasi muda bangsa ini dapaat
memperoleh pengetahuan sekaligus belajar etika dan jati diri bangsa tetap
terjaga dengan aman. Hentikan tayangan pembodohan agar dampaknya tidak meracuni
generasi muda bangsa, sehinggaa bangsa dapat melepaskan diri dari problematikaa
ekonomi, sosial, dan politik. Terciptanya bangsa yang maju, teerwujudnya
kesejahteraan, etika yang indah serta kemakmuran yang dicita-citakan dan
diidam-idamkan bangsa sejak dulu.