Minggu, 25 Desember 2016

Racun Generasi Bangsa

Saya menanggapi opini di Tribun Jateng, pada tanggal 23 Desember 2016 yang berjudul Ibu, Televisi dan Generasi Internet. Mencermati perkembangan siaran televisi dalam beberapa tahun terakhir ini, makin terasa bahwa perkembangan bidang siaran televisi dan pelaksanaannya tidak cukup mampu menghasilkan isi siaran yang sopan, bermartabat, mendidik dan menghibur secara sehat serta aman bagi anak maupun remaja. Stasiun televisi hendaknya memikirkan betul perkembangan generasi bangsa ini, tidak sekedar bermuara pada meraup keuntungan yang sebanyak-banyaknya, tanpa memikirkan nasib konsumennya. Stasiun televisi seharusnya ikut andil dalam mendidik generasi bangsa ini, supaya menjadi bangsa yang berkaraker, kepribadian timur, beretika, dan bermoral, karna nasib kemajuan bangsa ada pada pundak generasi muda. Tetapi pada kenyataannya sebagian stasiun televisi menyuguhkan tayangan-tayangan yang kurang berkualitas dan jika diamati akan menimbulkan dampak yang meracuni dan menggerus etika generasi muda bangsa. Kontrol terhadap tayangan televisi di masa ini dan masa depan perlu ditambah demi terciptaya bangsa yang berkarakter, beretika, dan berbudaya.
Cerita yang beratus-ratus episode dalam sinetron alur yang irasional sudah menjadi hal umum di persinetronan Indonesia. Kualitas jauh dari layak untuk di tonton, tetapi pada kenyataannya sinetron masih eksis ranah pertelevisian Indonesia. Cerita yang sering menonjolkan sisi kemewahan, perselingkuhan, iri, dengki, meengambil hak orang lain, anak sekolah yang bergeng, senior yang mengerjai juniornya, guru yang diceritakan sebagai sosok yang culun, pelajar membolos seekolah, berpesta di diskotik, saling menjatuhkan dan penindasan dengan melebihi batas kemanusiaan. Semua itu tidak lepas dari warna cerita di sinetron Indonesia.
Seorang peneliti bernama Dywer menyimpulkan bahwa media audio visual atau teleevisi mampu merebut 94% masuknya pesan-pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia, dengan cara ditransfer melalui mata dan telinga. Televisi mampu membuat orang mengingat 50% dari apa yan mereka lihat dan dengar di layar televisi walaupun hanya sekali ditayangkan. Atau secara umum orang akan mengingat 85% dari apa yang mereka lihat di televisi setelah tiga jam kemudian, dan 65% setelah tiga hari kemudian.
Maka dari itu penayangan sinetron dapat menabrak waktu belajar yaitu pukul 18.00-21.00, di mana waktu tersebut seharusnya digunakan untuk belajar. Tetapi karena sinetron telah membius jutaan penonton hingga tidak mau ketinggalan satu episode meskipun setiap episode menyuguhkan cerita yang tidak masuk akal tetap saja ditonton dengan mengorbankan waktu belajar. Hal yang semacam itu harus diatasi dengan peran orang tua sebagai manager waktu bagi putra-putrinya.
Sinetron sedikit demi sedikit dapat merubah moral, budaya, etika, gaya berpakaian cara berbicara hingga kebiasaan-kebiasaan para remaja, karena jiwa remaja masih labil dan masih mencari jati diri. Hal tersebut tidak boleh dibiarkan terus menerus ada dalam jiwa remaja, arena hal tersebut merupakan hal yang menyimpang dan berbanding terbalik dengan kepribadian bangsa Indonesia
Remaja perlu ditolong dari pembodohan sinetron. Memang tidak mudah jika sudah terlanjur melekat, tetepi kembali pada masing-masing individu. Tentunya sebagai remaja tidak ingi ketinggalan zaman dan selalu ingin dianggap gaul, tetapi meniru hal-haal yang tidak sesuai dengan budaya timur bukanlah caara untuk menjadi yang diharapkan. Nilai moral, budaya, dan etika sebagai bangsa Indonesia perlu dijunjung tinggi agar eksisnya sinetron yang menjadi menu wajib pertelevisian yang menimbulkan dampak negatif dapat ternetralisir dengan kepandaian remaja menyaring mana yang tidak sesuai dan mana yang boleh di contoh. Remaja juga perlu memperhatikan dan mematuhi kode yang ada di pojok televisi yaitu BO, SU, R, A, D, yaitu kode yang menunjukkan untuk siapa tayangan televisi disajikan.
Mengganti menu sinetron dengan menonton yang lebih bermanfaat misalnya berita dan acara realita kehidupan seseorang yang dapat dijadikan tauladan, agar mengerti seperti apa kehidupan sebenarnya sehingga menjadikan remaja dapat menghargai seseorang. Acara yang menyajikan tentang prestasi, jasa, bakat dan perbuatan baik seseorang juga layak untuk di tonton, seperti Kick Andi, Laptop Si Unyil, dan sebagainya. Acara tersebut sedikit banyak mampu memberikan motivasi kepada para penonton remaja khususnya, sehingga mereka dapat tergugah mengolah bakat dan minat untuk mengembangkan prestasi.
Memang memainkan sinetron, membuat sinetron, menulis alur cerita sinetron, dan memproduksi sinetron bukan hal mudah. Dibutuhkan kerja keras dan memutar otak untuk mendapatkan cerita yang menarik. Namun, para remaja yang posisinya sebagai konsumen layak mendapatkan tontonan yang berkualitas. Sebaiknya para produser menyuguhi konsumen dengn tontonan yang berkualitas, bermutu, mempunyai nilai moral yang jelas, dan mendidik. Agar generasi muda bangsa ini dapaat memperoleh pengetahuan sekaligus belajar etika dan jati diri bangsa tetap terjaga dengan aman. Hentikan tayangan pembodohan agar dampaknya tidak meracuni generasi muda bangsa, sehinggaa bangsa dapat melepaskan diri dari problematikaa ekonomi, sosial, dan politik. Terciptanya bangsa yang maju, teerwujudnya kesejahteraan, etika yang indah serta kemakmuran yang dicita-citakan dan diidam-idamkan bangsa sejak dulu.

Pemuda Gerakan Pembangun

                   Semarang – Peringatan Sumpah Pemuda yang jatuh pada hari Jumat 28 Oktober 2016 kemarin, dirayakan oleh sejumlah mahasiswa Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) yang diselenggarakan dan tergabung dalam teater gema. Mereka sengaja menghadirkan aksi orasi diparkiran Gedung Utama dan disaksikan ratusan mahasiswa. Dalam aksi orasi itu, membangun pemuda-pemuda yang lupa akan sejarah dan menghadirkan gambaran betapa cerdiknya pejuang zaman dahulu termasuk Muh Yamin, dalam merusmuskan Sumpah Pemuda.
           Padahal banyak tantangan untuk membentuk sumpah yang menjadi awal kebangkitan semangat para pemuda. “Meski saat ini perjuangan tidak lagi dalam arti melawan penjajahan, namun bisa dilakukan dengan hal lain. Peringatan sengaja digelar agar para pemuda, khususnya mahasiswa di kampus, mampu meneruskan perjuangan para pejuang. Semangat Sumpah Pemuda bisa dilakukan dengan lebih mengedepankan keilmuan para mahasiswa untuk kemajuan bangsa. Karena bagaimanapun, mahasiswalah yang nantinya menjadi pemimpin di masa depan.
            Melalui kualitas dan kemampuan yang dimilikinya pemuda harus mempunyai keyakinan untuk dapat menguasai dunia, harus siap bersaing dan berkompetisi. Pemuda harus mau untuk terus belajar dan belajar untuk memenangkan kompetisi. Untuk mampu tampil sebagai pelopor perubahan dalam kemajuan pmuda hars mampu menggenggam dunia dengan kreativitas dan inovasinya. Dalam pemikirannya, pemuda seharusnya sudah memiliki kondisi fisik yang baik serta mental yang kuat untuk modal berkreasi membangun bangsa.
            Orasi yang dilaksanakan mengajak seluruh mahasiswa sebagai pemuda untuk tak henti-hentinya berupaya dab berikhtiar memajukan negeri ini, “Pemuda adalah harapan bangsa”, maka sudah seharusnya memiliki kesehatan fisik dan mental yang baik. Jadi mari kuatkan tekad dan usaha untuk membangun bangsa dan negeri dengan akal yang sehat, jiwa yang sehaat untuk meraih masa depan.
            Hanya kesungguhan yang akan mengantarkan bangsa ini menggenggam dunia, melalui para pemuda. Pemuda kekinian harus mampu menjawab semua tantangan zaman. Pemerintah diharapkan member beasiswa gratis pada mahasiswa berprestasi. Melaui program tersebut dimaksudkan dapat memberikan bekal ilmu jenjang pendidikan tinggi. Harapannya, pemuda kelak bisa mengabdikan diri untuk membangun bangsa ini.
Jangan Hanya Jadi Penonton
Peringatan Sumpah Pemuda tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa. Sekelompok pegiat budaya juga menyelenggarakan refleksi 88 tahun Sumpah Pemuda. Contoh, bertempat di Dukuh Putat, Desa Sumanding, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara. Bertujuan untuk membangun kesadaran bersama para pemuda agar tidak menjadi penonton atau bahkan menghujat pembangunan negeri. Kegiatan ini diikuti sekitar 175 dari berbagai desa. Ada tiga pembicara yang didatangkan dalam kegiatan yaitu Muhammad Iskak Wijaya, Hadi Pureanto dan Suharno yang juga menampilkan seni tradisi. “Pemuda wajib hadir dalam setiap langkah untuk mencapai kemajuan bangsa, bukan menjadi penonton apalagi penghujat”.
Muhammad Iskak Wijaya mengajak para pemuda untuk bangun dan bangkit dari tidurnya. Pegiat budaya yang turut menginisiasi lahirya Festival Kartini Jepara berharap para pemuda untuk mencurahkan potensi dirinya. Dia juga mengungkapkan potensi alam juga harus ditingkatkan. Karena itu dia mengajak pemuda untuk kembali mencintai bidang pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan. Pemuda saat ini kurang minat dalam bidang tersebut. Padahal itu juga potensi yang mempengaruhi kemajuan sebuah bangsa.
Hadi Pureanto yang dikenal sebagai dalang kondang, mengajak pemuda utnuk mencintai kembali budaya local. “Seyogyanya pemuda tidak kehilangan jati diri dan jangan sampai seni tradisi menjadi mati suri”. Sementara Suharno, Ketua Paguyuban Seni pendalangan mengaku cemas semakin menurunnya minat generasi muda pada seni budaya tradisi. Padahal pelestarian ini sangat terkait dengan karakter bangsa.
Kesenian budaya pada saat ini kurang dilestarikan dengan baik oleh pemuda. Dibuktikan dengan sekarang ini banyak tidak menyenag, bahkan tidak pernah melihat atau tidak mengenal seni budaya negeri ini dengan keanekaragaman dan kelebihan setiap daerah. Untuk mengenal dan membangun berkepribadian budaya seni tradisional dapat diadakan agenda rutin di setiap kegiatan baik pada eksternal dan internal jurusan maupun fakultas. Contoh dengan mengadakan kegiatan Festival Budaya setiap memperingati bulan bahasa.
 Bukan hanya kurangnya pelestarian seni budaya oleh pemuda. Pemuda saat ini juga kian meluntur rasa kecintaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Padahal itu juga menjadi alat pembangunan bangsa ini.Seharusnya pemuda bersumpah pada dirinya sendiri “Saya bangga menjadi bangsa Indonesia, saya bangga bertanah airkan Indonesia, dan berjanji mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hingga mat, bukan basa-basi”. Lunturnya kecintaan kepada Tanah Air lantaran minimnya pemahaman terhadap sejarah bangsa maupun sejarah Islam.
Minimnya bekal sejarah ini pula yang menyebabkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, sahabat, keluarga, pewarisannya (ulama), dan para pejuang berkurang. Dengan mempelajari sejarah Nabi Muhammad , sahabat, keluarga, pewaris nabi (ulama), dan sejarah bangsa, maka kecintaan pada bangsa akan semakin kuat. Adanya oknum yang sengaja menjauhkan dari sejarah ke dalam aliran tertentu, menjadi minimnya sejarah digenerasi muda. Mempelajari sejarah nabi, sahabat, walisongo dianggap syiah, sehingga akhirnya takut mempelajari sejarah. Padahal sejarah bagi generasi muda menjadi obor untuk modal membangun masa depan bangsa.
Untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus mampu memperkuat sejarah. Pelajari sejarah bangsa mulai tokoh-tokoh pembangun ekonomi, pertanian, ulama-ulama, dan pendahulu yang membangun bangsa. Bangsa ke depan maju atau tidak ada dipundaknya generasi muda. Sehingga jangan mempermalukan sesepuh-sesepuh bangsa ini. Persiapkan tanggung jawab dan menjawab tantangan umat dan bangsa. “Mari rapatkan barisan jangan memberikan kesempatan bagi oknum-oknum yang ingin memecah belah Indonesia”.

--- Nilna Zakkiya ‘Azmi, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas PGRI Semarang. ---

Wahana Pengetahuan Sastra



            Bedah buku baru saja digelar satu minggu yang lalu dalam rangka Launching Gebyar Bahasa UPGRIS bersastra, tanggal 19 Oktober 2016. Dalam bedah buku tersebut membedah tiga buku karya dari Triyanto Triwikromo yang berjudul Bersepeda Ke Neraka, Selir Musim Panas, Sesat Pikir Para Binatang. Panitia dalam acara tersebut mengundang tiga pembicara, tiga kritikus. Tiga Kritikus yang hadir dan memberikan orasi diantaranya Dr. Nur Hidayat, Dra. S. Prasetyo Utomo, Widyanuari Eko Putra, S.Pd. Acara dipandu dosen S2 Sastra Universitas PGRI Semarang Dr. Harjito dan ada musikali puisi dari Biscuittime.
          Pembukaan acara disuguhkan dengan pementasan yang dihasilkan dari buku-buku Triyanto Triwikromo oleh anak-anak Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang. Pementasan yang disuguhkan dibina Ibu Dra. Asrofah, M.Pd. sebagai dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni. UKM UKKI Universitas PGRI Semarang juga ikut mengiringi pementasan.
          Rektor dan Wakil Rektor tidak mau kalah. Rektor Universitas PGRI Semarang Dr. Muhdi, S.H., M.Hum. membacakan puisi kemudian menyanyikan lagu karyanya sendiri yang diciptakan semasa mudanya untuk menyindir orang-orang yang suka mabuk-mabukan. Lagu yang dinyanyikan dengan diiringi gitar yang dimainkan sendiri. Wakil Rektor Universitas PGRI Semarang Dra. Sri Suciati, M.Hum. juga membacakan puisi karya Triyanto Triwikromo denagn diiringi musik. Iringan musik tidak dimainkan sendiri tetapi diiringi oleh vokal dan Biscuittime.
          Ada yang menarik dari buku-buku Triyanto Triwikromo yang dibedah oleh tiga kritikus. Bahasa yang digunakan membuat buku-bukunya tidak muadah di pahami oleh orang-orang, sekaligus orang yang membaca dan mempelajari ilmu sastra. Dibuktikan dengan pengakuan sendiri dari Wakil Rektor Universitas PGRI Semarang yang mengatakan secara langsung di depan pengarang kalau “tidak mudah memahami bahasa yang ditulis pengarang”.
          Benar yang dkatakan Wakil Rektor Universitas PGRI Semarang. Karena salah satu kritikus Widyanuari Eko Putra, S.Pd. “untuk memahami isi tulisan tulisan yang ditulis Triyanto Triwikromo harus membaca empat buku sekaligus, itu saja untuk satu buku”. Maka dari itu dapat disimpulkan menjadi penulis buku, pengarang buku atau penyair itu berat. Harus banyak-banyak membaca buku-buku yang dijadikan referensi untuk mengahsilkan karya tulisan.
          Membaca menjadi makanan wajib bagi penulis karya satra. Tidak hanya buku-buku dalam negeri, tetapi juga buku-buku sasra luar negeri yang dijadikan sebagai referensi untuk dipelajari. Misalnya buku puisi dalam kumpulan puisi Rokeby karyanya Sir Walter Scott, novel dalam buku  Eugene Rougan karya Emile Zola atau roman The Three Musketeers karya Alexander.
          Mahasiswa/Siswa saat ini kurang dalam hal membaca, maka jarang sekali menemukan Mahasiswa/Siswa yang kreatif menciptakan karyanya dan unggul. Peran sastrawan saat ini penting untuk keberlanjutan sastra yang berkembang di Indonesia. Harusnya Mahasiswa/Siswa belajar dari karya-karya sastrawan saat ini atau belajar langsung dengan orangnya. Bukan hanya jadi penonton dan penikmat karya-karya yang beredar zaman sekarang ini yang ditulis oleh sastrawan-sastrawan. Mahasiswa/Siswa harus mau mulai membuat karya-karya sendiri dengan ide kreatif yang dimiliki. Pasti mempunya ide-ide kreatif untuk ditulis kalau mau berfikir.
          Guru pun saat ini buta akan sastra yang berkembang itu bagaimana. Guru seharusnya memberikan wawasan dan mengaplikasikannya secara langsung. Misalnya dengan menyuruh membuat puisi. Dengan begitu Mahasiswa/Siswa secara langung berfikir dan mengeluarkan  ide-ide kreatif mereka melalui tulisan. Bukan hanya tugas membaca puisi, tetapi puisi itu hanya mengambil dari internet.
          Kalau bukan adanya paksaan begitu sastra di Indonesia akan lenyap. Hanya ada sastra peninggalan-peninggalan dari sastrawan yang telah berpulang. Dari ide-ide tulisan yang mulai dibuat melalui ide kreatif yang memang belum sempurna yang akan disempurnakan dengan berjalanannya waktu dengan mempelajari sastra. Belajar sastra itu membutuhkan waktu yang lama dan tidak mudah seperti membalikan telapak tangan.
          Guru-guru pengajar kita pun sangat sedikit yang ikut forum sastra, komunitas sastra yang berdiri di darah masing-masing atau menghadiri acara-acara yang berkaitan dengan sastra. Pasti guru yang ikut dalam forum, komunitas sastra atau menghadiri acara-acara yang berkaitan dengan sastra pengalamannya luas. Pengalaman tersebut dapat disampaikan pengalaman yang didapatkannya kepada murid. Sehingga murid ada keinginan untuk meniru apa yang dilakukan gurunya dan mempunyai gambaran untuk membuat. Guru yang mempunyai pengalaman dapat membuat ekstra di sekolahan dan mengajarkan tentang sastra. Untuk mencari orang-orang kreatif yang mau menuangkan ide-idenya juga dapat dilakukan dengan mengadakan “lomba sastra” Siswa SMA/SMK sederajat Se-Kabupaten atau Se-Karisidenan. Dapat juga melakukan dikalangan Mahasiswa dengan mengadakan “lomba satra” Mahasiswa antar kampus.
          Banyak hal dapat diambil dlam forum-forum sastra, komunitas-komunitas sastra yang mungkin mendatangkan banyak tokoh sastra misal diantaranya seperti Habiburrahman El Shirazy, Mira Widjaja, Pramoedya Ananta Toer, dan juga tokoh yang masih muda dan masih aktif dalam pembuatan karya-karyanya yakni Raditya Dika atau yang lainnya. Dari situlah ilmu didapat dan disampaikan kelak yang bermanfaat.

--- Nilna Zakkiya ‘Azmi, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas PGRI Semarang, Pendengar UPGRIS BERSASTRA ---
x

Memelihara Cerita Rakyat Melalui Seni Peran


          Malam itu begitu ramai orang mengantri untuk menonton pertunjukan teater gema di Gedung Pusat lantai 7 Universitas PGRI Semarang yang menampilkan Jaka Tarub. Ruangan begitu redup ketika dimulainya pementasan. Penonton kelihatan tidak sabar menyaksikan teater.

          Sorotan lampu menyala, cahaya di jatuhkan tepat pada Jaka Tarub. Pertunjukan di mulai, penonton  dibingungkan dengan cerita yang di tampilkan saat jaka tarub sudah mempunyai anak. Anak itu juga kangen sama ibunya. Ternyata itu merupakan ending dari cerita saat Jaka Tarub sudah ditinggalkan istrinya yaitu Dewi Nawang Wulan.          Dalam benak penonton pasti bosan karena sudah mengetahui ceritanya. Namun setelah dimulai dengan percakapan antara Jaka Tarub dengan seorang pemuda. Setelah terbangun dari tidurnya yang bermimpi menikah dengan bidadari. Pemuda tertawa karena pasti itu semua tidak mungkin dan memberikan pesan jalan lurus tatap masa depan karena Jaka meyakini mimpinya akan terwujud.          Mengingat mahasiswa dan mahasiswi lelah dengan tugas-tugas yang didapatnya. Tidak menyesal menonton pertunjukan malam itu untuk menghilangkan lelah sejenak. Dimulai dari Jaka berburu ke hutan yang setelah itu melihat tujuh bidadari yang turun dari kayangan. Ternyata ada lelucon juga dengan tujuh bidadai tersebut yang menggunakan bahasa-bahasa alay dan menggunakan bahasa-bahasa gaul yang membuat penonton menjadi tertawa lepas.          Setelah ke tujuh bidadari itu mandi di sungai. Jaka mengambil selendang salah satu bidadari tersebut. Ayam mulai berkokok, ke enam bidari harus kembali ke kayangan. Salah satu bidadari tersebut tidak dapat kembali ke kayangan karena selendangnya hilang entah kemana.Bidadari tersebut kembali berendam di sungai dan mengatakan apabila ada orang yang menolong, kalau perempuan dijadikan saudara kalau laki-laki akan dijadikan suaminya. Mendengar perkataan itu Jaka langsung berlari pulang menyimpan selendang yang di ambil dan kembali membawa baju ibunya untuk menolong bidadari tersebut dan di ajak pulang ke rumah.Suasana tidak lagi membosankan setelah ada hiburan di tengah pertunjukan teater malam itu. Dua orang gendut bernama Topo dan Tomo menghibur pentonton dengan guyonan dan tingkah laku yang lucu dengan perutnya yang buncit dan payudara yang besar.Ke dua pemuda terebut membahas tentang bagaimana cara memberi salam yang baik sebagai kepala desa. Tomo yang berbadan gemuk di suruh Topo mempraktikan bagaimana memberi salam yang baik kepada masyarakat. Semua penonton tertawa ketika melihat perutna yang buncit bagaikan waduk. Akhirnya berdua eyel-eyelan tentang kebenaran member salam yang baik itu bagiamana.Datanglah pemuda lagi untuk menghibur penonton yaitu sebagai pelerai Topo dan Tomo yang lagi eyel-eyelan lalu bilang jangan berteman, sambil memberikan gergaji ke pada keduanya. Semua penonton tertawa terbahak-bahak. Kemudian pemuda itu mengetes syarat untuk menjadi lurah yang harus memenuhi syarat dari mata, telinga sampai harus bisa menari kembali lagi semua penonton tertawa terbahak-bahak melihat setiap adegan.Guyonan itu selesai, cerita kembali ke Jaka Tarub yang sudah menikah dengan Dewi Nawang Wulan dan sudah mengandung 9 bulan. Jaka Tarub pulang dari bekerja mencangkul dari sawah yang ditunggui istrinya di luar rumah. Setelah itu mereka berdua masuk dalam rumah dan Jaka beristirahat di luar rumah. Nawang berteriak-teriak bahwa anaknya mau lahir. Jaka berlari memanggil dukun bayi, namun dukun bayi itu tidak dapa berjalan dengan cepat. Akhirnya dukun bayi itu digendong Jaka Tarub.Suara bayi terdengar dari sound menandakan anak dari jaka tarub sudah lahir. Mereka sepakat memberi nama anaknya Nawangsih, karena Jaka sangat mengasihi istrinya yaitu Dewi Nawang Wulan. Pagi hari mereka bertiga keluar dari rumah, Nawang menitipkan Nawangsih kepada Jaka karena dia mau mencuci pakaian di sungai. Sebelum mencuci pakaian ke sawah Nawang memasak nasi di dapur dan berpesan kepada Jaka agar tidak membuka apa yang di masak.Namun Jaka penasaran dengan apa yang dikatakan istrinya mengapa setiap memasak tidak boleh  di buka. Jaka membuka masakan mengetahui yang di masak istrinya hanya seikat padi. Sampainya di rumah Jaka menanyakan mengapa hanya masak segitu. Nawang langsung pergi ke dapur mengambil padi yang di masak tersebut dan bilang kepada Jaka bahwa dia lupa kalau istrinya bidadari dan mempunyai kesaktian.Jaka baru mengingat dan semua kejadian sudah terlanjur, kesaktian istrinya hilang. Istrinya menangis berlari ke dapur dan menemukan selendang miliknya yang ternyata disembunyikan Jaka Tarub. Nawang meninggalkan Jaka berlali dan kembali kekayangan dengan menitipkan anak kepada Jaka. Nawang juga berpesan kalau anak mereka menanyakan ibunya agar di bawa dimana mereka berpisah pada bulan purnama.Keadilan Dalam  Dunia Hukum          Pementasan Jaka Tarub telah berakhir dengan banyak tepuk tangan dari penonton. Dilajutkan penampilan kedua yang akan dibawakan ke Kendari Sulawesi Tenggara dalam rangka Peksiminas. Berawal dari Sumarah sekolah di Madrasah gurunya menerangkan tentang PKI. Teman-temannya pun melihat Sumarah yang bapaknya menghilang dan di cap sebagai PKI.          Di desa pun Sumarah di bicarakan warga. Saat sumarah ke RT untuk meminta suat pun tidak bisa. Bosan dengan semua cemooh orang di sekitar-sekitarnya yang katanya orag Indonesia ramah-ramah. Tetapi akhrinya pergi yang tujuannya untuk mencari kesuksesan dengan menjadi TKW di Arab Saudi.          Namun semua tidak berjalan dengan yang diharapkan. Sumarah di siksa majikannya di Arab dan tidak di bayar gajinya. Pengadilan Arab tidak bisa menolongnya apalagi hukum di negaranya sendiri yaitu Indonesia. Dengan kenekatannya Sumarah membunuh majikannya karena sudah kesal dengan semua yang di deritanya.x
x