Malam itu begitu ramai orang mengantri untuk menonton pertunjukan teater gema di Gedung Pusat lantai 7 Universitas PGRI Semarang yang menampilkan Jaka Tarub. Ruangan begitu redup ketika dimulainya pementasan. Penonton kelihatan tidak sabar menyaksikan teater.
Sorotan lampu menyala, cahaya di jatuhkan tepat pada Jaka
Tarub. Pertunjukan di mulai, penonton
dibingungkan dengan cerita yang di tampilkan saat jaka tarub sudah
mempunyai anak. Anak itu juga kangen sama ibunya. Ternyata itu merupakan ending
dari cerita saat Jaka Tarub sudah ditinggalkan istrinya yaitu Dewi Nawang
Wulan. Dalam benak penonton pasti bosan karena sudah mengetahui
ceritanya. Namun setelah dimulai dengan percakapan antara Jaka Tarub dengan seorang
pemuda. Setelah terbangun dari tidurnya yang bermimpi menikah dengan bidadari.
Pemuda tertawa karena pasti itu semua tidak mungkin dan memberikan pesan jalan
lurus tatap masa depan karena Jaka meyakini mimpinya akan terwujud. Mengingat mahasiswa dan mahasiswi lelah dengan tugas-tugas
yang didapatnya. Tidak menyesal menonton pertunjukan malam itu untuk
menghilangkan lelah sejenak. Dimulai dari Jaka berburu ke hutan yang setelah
itu melihat tujuh bidadari yang turun dari kayangan. Ternyata ada lelucon juga
dengan tujuh bidadai tersebut yang menggunakan bahasa-bahasa alay dan
menggunakan bahasa-bahasa gaul yang membuat penonton menjadi tertawa lepas. Setelah ke tujuh bidadari itu mandi di sungai. Jaka
mengambil selendang salah satu bidadari tersebut. Ayam mulai berkokok, ke enam
bidari harus kembali ke kayangan. Salah satu bidadari tersebut tidak dapat
kembali ke kayangan karena selendangnya hilang entah kemana.Bidadari
tersebut kembali berendam di sungai dan mengatakan apabila ada orang yang
menolong, kalau perempuan dijadikan saudara kalau laki-laki akan dijadikan
suaminya. Mendengar perkataan itu Jaka langsung berlari pulang menyimpan
selendang yang di ambil dan kembali membawa baju ibunya untuk menolong bidadari
tersebut dan di ajak pulang ke rumah.Suasana
tidak lagi membosankan setelah ada hiburan di tengah pertunjukan teater malam
itu. Dua orang gendut bernama Topo dan Tomo menghibur pentonton dengan guyonan
dan tingkah laku yang lucu dengan perutnya yang buncit dan payudara yang besar.Ke
dua pemuda terebut membahas tentang bagaimana cara memberi salam yang baik
sebagai kepala desa. Tomo yang berbadan gemuk di suruh Topo mempraktikan
bagaimana memberi salam yang baik kepada masyarakat. Semua penonton tertawa
ketika melihat perutna yang buncit bagaikan waduk. Akhirnya berdua eyel-eyelan
tentang kebenaran member salam yang baik itu bagiamana.Datanglah
pemuda lagi untuk menghibur penonton yaitu sebagai pelerai Topo dan Tomo yang
lagi eyel-eyelan lalu bilang jangan berteman, sambil memberikan gergaji ke pada
keduanya. Semua penonton tertawa terbahak-bahak. Kemudian pemuda itu mengetes
syarat untuk menjadi lurah yang harus memenuhi syarat dari mata, telinga sampai
harus bisa menari kembali lagi semua penonton tertawa terbahak-bahak melihat
setiap adegan.Guyonan
itu selesai, cerita kembali ke Jaka Tarub yang sudah menikah dengan Dewi Nawang
Wulan dan sudah mengandung 9 bulan. Jaka Tarub pulang dari bekerja mencangkul
dari sawah yang ditunggui istrinya di luar rumah. Setelah itu mereka berdua
masuk dalam rumah dan Jaka beristirahat di luar rumah. Nawang berteriak-teriak
bahwa anaknya mau lahir. Jaka berlari memanggil dukun bayi, namun dukun bayi
itu tidak dapa berjalan dengan cepat. Akhirnya dukun bayi itu digendong Jaka
Tarub.Suara
bayi terdengar dari sound menandakan anak dari jaka tarub sudah lahir.
Mereka sepakat memberi nama anaknya Nawangsih, karena Jaka sangat mengasihi
istrinya yaitu Dewi Nawang Wulan. Pagi hari mereka bertiga keluar dari rumah,
Nawang menitipkan Nawangsih kepada Jaka karena dia mau mencuci pakaian di
sungai. Sebelum mencuci pakaian ke sawah Nawang memasak nasi di dapur dan
berpesan kepada Jaka agar tidak membuka apa yang di masak.Namun
Jaka penasaran dengan apa yang dikatakan istrinya mengapa setiap memasak tidak
boleh di buka. Jaka membuka masakan
mengetahui yang di masak istrinya hanya seikat padi. Sampainya di rumah Jaka
menanyakan mengapa hanya masak segitu. Nawang langsung pergi ke dapur mengambil
padi yang di masak tersebut dan bilang kepada Jaka bahwa dia lupa kalau istrinya
bidadari dan mempunyai kesaktian.Jaka
baru mengingat dan semua kejadian sudah terlanjur, kesaktian istrinya hilang.
Istrinya menangis berlari ke dapur dan menemukan selendang miliknya yang
ternyata disembunyikan Jaka Tarub. Nawang meninggalkan Jaka berlali dan kembali
kekayangan dengan menitipkan anak kepada Jaka. Nawang juga berpesan kalau anak
mereka menanyakan ibunya agar di bawa dimana mereka berpisah pada bulan
purnama.Keadilan Dalam Dunia Hukum Pementasan Jaka Tarub telah berakhir dengan banyak tepuk
tangan dari penonton. Dilajutkan penampilan kedua yang akan dibawakan ke
Kendari Sulawesi Tenggara dalam rangka Peksiminas. Berawal dari Sumarah sekolah
di Madrasah gurunya menerangkan tentang PKI. Teman-temannya pun melihat Sumarah
yang bapaknya menghilang dan di cap sebagai PKI. Di desa pun Sumarah di bicarakan warga. Saat sumarah ke RT
untuk meminta suat pun tidak bisa. Bosan dengan semua cemooh orang di
sekitar-sekitarnya yang katanya orag Indonesia ramah-ramah. Tetapi akhrinya
pergi yang tujuannya untuk mencari kesuksesan dengan menjadi TKW di Arab Saudi. Namun semua tidak berjalan dengan yang diharapkan. Sumarah
di siksa majikannya di Arab dan tidak di bayar gajinya. Pengadilan Arab tidak
bisa menolongnya apalagi hukum di negaranya sendiri yaitu Indonesia. Dengan
kenekatannya Sumarah membunuh majikannya karena sudah kesal dengan semua yang
di deritanya.x
x
x
Tidak ada komentar:
Posting Komentar