Minggu, 25 Desember 2016

Memelihara Cerita Rakyat Melalui Seni Peran


          Malam itu begitu ramai orang mengantri untuk menonton pertunjukan teater gema di Gedung Pusat lantai 7 Universitas PGRI Semarang yang menampilkan Jaka Tarub. Ruangan begitu redup ketika dimulainya pementasan. Penonton kelihatan tidak sabar menyaksikan teater.

          Sorotan lampu menyala, cahaya di jatuhkan tepat pada Jaka Tarub. Pertunjukan di mulai, penonton  dibingungkan dengan cerita yang di tampilkan saat jaka tarub sudah mempunyai anak. Anak itu juga kangen sama ibunya. Ternyata itu merupakan ending dari cerita saat Jaka Tarub sudah ditinggalkan istrinya yaitu Dewi Nawang Wulan.          Dalam benak penonton pasti bosan karena sudah mengetahui ceritanya. Namun setelah dimulai dengan percakapan antara Jaka Tarub dengan seorang pemuda. Setelah terbangun dari tidurnya yang bermimpi menikah dengan bidadari. Pemuda tertawa karena pasti itu semua tidak mungkin dan memberikan pesan jalan lurus tatap masa depan karena Jaka meyakini mimpinya akan terwujud.          Mengingat mahasiswa dan mahasiswi lelah dengan tugas-tugas yang didapatnya. Tidak menyesal menonton pertunjukan malam itu untuk menghilangkan lelah sejenak. Dimulai dari Jaka berburu ke hutan yang setelah itu melihat tujuh bidadari yang turun dari kayangan. Ternyata ada lelucon juga dengan tujuh bidadai tersebut yang menggunakan bahasa-bahasa alay dan menggunakan bahasa-bahasa gaul yang membuat penonton menjadi tertawa lepas.          Setelah ke tujuh bidadari itu mandi di sungai. Jaka mengambil selendang salah satu bidadari tersebut. Ayam mulai berkokok, ke enam bidari harus kembali ke kayangan. Salah satu bidadari tersebut tidak dapat kembali ke kayangan karena selendangnya hilang entah kemana.Bidadari tersebut kembali berendam di sungai dan mengatakan apabila ada orang yang menolong, kalau perempuan dijadikan saudara kalau laki-laki akan dijadikan suaminya. Mendengar perkataan itu Jaka langsung berlari pulang menyimpan selendang yang di ambil dan kembali membawa baju ibunya untuk menolong bidadari tersebut dan di ajak pulang ke rumah.Suasana tidak lagi membosankan setelah ada hiburan di tengah pertunjukan teater malam itu. Dua orang gendut bernama Topo dan Tomo menghibur pentonton dengan guyonan dan tingkah laku yang lucu dengan perutnya yang buncit dan payudara yang besar.Ke dua pemuda terebut membahas tentang bagaimana cara memberi salam yang baik sebagai kepala desa. Tomo yang berbadan gemuk di suruh Topo mempraktikan bagaimana memberi salam yang baik kepada masyarakat. Semua penonton tertawa ketika melihat perutna yang buncit bagaikan waduk. Akhirnya berdua eyel-eyelan tentang kebenaran member salam yang baik itu bagiamana.Datanglah pemuda lagi untuk menghibur penonton yaitu sebagai pelerai Topo dan Tomo yang lagi eyel-eyelan lalu bilang jangan berteman, sambil memberikan gergaji ke pada keduanya. Semua penonton tertawa terbahak-bahak. Kemudian pemuda itu mengetes syarat untuk menjadi lurah yang harus memenuhi syarat dari mata, telinga sampai harus bisa menari kembali lagi semua penonton tertawa terbahak-bahak melihat setiap adegan.Guyonan itu selesai, cerita kembali ke Jaka Tarub yang sudah menikah dengan Dewi Nawang Wulan dan sudah mengandung 9 bulan. Jaka Tarub pulang dari bekerja mencangkul dari sawah yang ditunggui istrinya di luar rumah. Setelah itu mereka berdua masuk dalam rumah dan Jaka beristirahat di luar rumah. Nawang berteriak-teriak bahwa anaknya mau lahir. Jaka berlari memanggil dukun bayi, namun dukun bayi itu tidak dapa berjalan dengan cepat. Akhirnya dukun bayi itu digendong Jaka Tarub.Suara bayi terdengar dari sound menandakan anak dari jaka tarub sudah lahir. Mereka sepakat memberi nama anaknya Nawangsih, karena Jaka sangat mengasihi istrinya yaitu Dewi Nawang Wulan. Pagi hari mereka bertiga keluar dari rumah, Nawang menitipkan Nawangsih kepada Jaka karena dia mau mencuci pakaian di sungai. Sebelum mencuci pakaian ke sawah Nawang memasak nasi di dapur dan berpesan kepada Jaka agar tidak membuka apa yang di masak.Namun Jaka penasaran dengan apa yang dikatakan istrinya mengapa setiap memasak tidak boleh  di buka. Jaka membuka masakan mengetahui yang di masak istrinya hanya seikat padi. Sampainya di rumah Jaka menanyakan mengapa hanya masak segitu. Nawang langsung pergi ke dapur mengambil padi yang di masak tersebut dan bilang kepada Jaka bahwa dia lupa kalau istrinya bidadari dan mempunyai kesaktian.Jaka baru mengingat dan semua kejadian sudah terlanjur, kesaktian istrinya hilang. Istrinya menangis berlari ke dapur dan menemukan selendang miliknya yang ternyata disembunyikan Jaka Tarub. Nawang meninggalkan Jaka berlali dan kembali kekayangan dengan menitipkan anak kepada Jaka. Nawang juga berpesan kalau anak mereka menanyakan ibunya agar di bawa dimana mereka berpisah pada bulan purnama.Keadilan Dalam  Dunia Hukum          Pementasan Jaka Tarub telah berakhir dengan banyak tepuk tangan dari penonton. Dilajutkan penampilan kedua yang akan dibawakan ke Kendari Sulawesi Tenggara dalam rangka Peksiminas. Berawal dari Sumarah sekolah di Madrasah gurunya menerangkan tentang PKI. Teman-temannya pun melihat Sumarah yang bapaknya menghilang dan di cap sebagai PKI.          Di desa pun Sumarah di bicarakan warga. Saat sumarah ke RT untuk meminta suat pun tidak bisa. Bosan dengan semua cemooh orang di sekitar-sekitarnya yang katanya orag Indonesia ramah-ramah. Tetapi akhrinya pergi yang tujuannya untuk mencari kesuksesan dengan menjadi TKW di Arab Saudi.          Namun semua tidak berjalan dengan yang diharapkan. Sumarah di siksa majikannya di Arab dan tidak di bayar gajinya. Pengadilan Arab tidak bisa menolongnya apalagi hukum di negaranya sendiri yaitu Indonesia. Dengan kenekatannya Sumarah membunuh majikannya karena sudah kesal dengan semua yang di deritanya.x
x

Tidak ada komentar:

Posting Komentar