Mencermati perkembangan siaran televisi dalam beberapa
tahun terakhir ini, makin terasa bahwa perkembangan bidang siaran televisi dan
pelaksanaannya tidak cukup mampu menghasilkan isi siaran yang sopan, bermartabat,
mendidik dan menghibur secara sehat serta aman bagi remaja. Stasiun televisi
hendaknya memikirkan betul perkembangan generasi bangsa ini, tidak sekedar
bermuara pada meraup keuntungan yang sebanyak-banyaknya, tanpa memikirkan nasib
konsumennya. Stasiun Tv seharusnya ikut andil dalam mendidik generasi bangsa
ini, supaya menjadi bangsa yang berkaraker, kepribadian timur, beretika, dan
bermoral, karna nasib kemajuan bangsa ada pada pundak generasi muda. Tetapi
pada kenyataannya sebagian stasiun televisi menyuguhkan tayangan-tayangan yang
kurang berkualitas dan jika diamati akan menimbulkan dampak yang meracuni dan
menggeruss etika generasi muda bangsa. Kontrol terhadap tayangan televisi di
masa ini dan masa depan perlu ditambah demi terciptaya bangsa yang berkarakter,
beretika, dan berbudaya.
Cerita yang berates-ratus episode dalam sinetron alur
yang irasional sudah menjadi hal umum di persinetronan Indonesia. Kualitas jauh
dari layak untuk di tonton, tetapi pada kenyataannya sinetron masih eksis ranah
pertelevisian Indonesia. Cerita yang sering menonjolkan sisi kemewahan,
perselingkuhan, iri, dengki, meengambil hak orang lain, anak sekolah yang
bergeng, senior yang mengerjai juniornya, guru yang diceritakan sebagai sosok
yang culun, pelajar membolos seekolah, berpesta di diskotik, saling menjatuhkan
dan penindasan dengan melebihi batas kemanusiaan. Semua itu tidak lepas dari
warna cerita di sinetron Indonesia.
Seorang peneliti bernama Dywer menyimpulkan bahwa media
audio visual atau teleevisi mampu merebut 94% masuknya pesan-pesan atau
informasi ke dalam jiwa manusia, dngan cara ditransfer melalui mata dan
telinga. Televisi mampu membuat orang mengingat 50% dari apa yan mereka lihat
dan dengar di layar televise walaupun hanya sekali ditayangkan. Atau secara
umum orang akan mengingat 85% dari apa yang mereka lihat di televise
setelahtiga jam kemudian, dan 65% setelah tiga hari kemudian.
Maka
dari itu penayangan sinetron dapat menabrak waktu belajar yaitu pukul
18.00-21.00, di mana waktu tersebut seharusnya digunakan untuk belajar. Tetapi
karena sinetron telah membius jutaan penonton hingga tidak mau ketinggalan satu
episode meskipun setiap episode menyuguhkan cerita yang tidak masuk akal tetap
saja di tonton dengan mengorbankan waktu belajar. Hal yang semacam itu harus
diatasi dengan peran orang tua sebagai manager waktu bagi putra-putrinya.
Sinetron
sedikit demi sedikit dapat merubah moral, budaya, etika, gaya berpakaian cara
berbicara hingga kebiasaan-kebiasaan para remaja, karena jiwa remaja masih
labil dan masih mencari jati diri. Hal tersebut tidak boleh dibiarkan terus
menerus ada dalam jiwa remaja, arena hal tersebut merupakan hal yang menyimpang
dan berbanding terbalik dengan kepribadian bangsa Indonesia
Remaja perlu ditolong dari pembodohan sinetron. Memang
tidak mudah jika sudah terlanjur melekat, tetepi kembali pada masing-masing
individu. Tentunya sebagai remaja tidak ingi ketinggalan zaman dan selalu ingin
di anggap gaul, tetapi meniru hal-haal yang tidak sesuai dengan budaya timur
bukanlah caara untuk menjadi yang diharapkan. Nilai moral, budaya, dan etika
sebagai bangsa Indonesia perlu dijunjung tinggi agar eksisnya sinetron yang
menjadi menu wajib pertelevisian yang menimbulkan damapk negatif dapat
ternetralisir dengan kepandaian remaja menyaring mana yang tidak sesuai dan
mana yang bleh di contoh. Remaja juga
perlu memperhatikan dan mematuhi kode yang adaa di pojok televisi yaitu
BO, SU, R, A, D, yaitu kode yang menunjukkan untuk siapa tayangan televisi
disajikan
Mengganti menu sinetron dengan menonton yang lebih
bermanfaat misalnya berita dan acara realita kehidupan seseorang yang dapat
dijadikan tauladan, agar mengerti seperti apa kehidupan sebenarnya sehingga
menjadikan remaja dapat menghargai seseorang. Acara yang menyajikan tentang
prestasi, jasa, bakat dan perbuatan baik seseorang juga layak untuk di tonton,
seperti Kick Andi, Laptop Si Unyil, dsb. Acara tersebut sedikit banyak mampu
memberikan motivasi kepada para penonton remaja khususnya, sehingga mereka
dapat tergugah mengolah bakat dan minat untuk mengembangkan prestasi.
Memang
memainkan sinetron, membuat sinetron, menulis alur cerita sinetron, dan
memproduksi sinetron bukan hal mudah. Dibutuhkan kerja keras dan memutar otak
untuk mendapatkan cerita yang menarik. Namun, para remaja yang posisinya
sebagai konsumen layak mendapatkan tontonan yang berkualitas. Sebaiknya para
produser menyuguhi konsumen dengn tontonan yang berkualitas, bermutu, mempunyai
nilai moral yang jelas, dan mendidik. Agar generasi muda bangsa ini dapaat memperoleh
pengetahuan sekaligus belajar etika dan jati diri bangsa tetap terjaga dengan
aman. Hentikan tayangan pembodohan agar dampaknyaa tidak meracuni geenerasi
muda bangsa, sehinggaa bangsa dapat melepaskan diri dari problematikaa ekonomi,
social, dan politik. Terciptanya bangsa yang maju, teerwujudnya kesejahteraan,
etika yang indah serta kemakmuran yang di cita-citakan dan di idam-idamkan
bangsa sejak dulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar