Minggu, 20 Desember 2015

Kisah Klasik Untuk Masa Depan



              Bapak Hendrik, mendengar nama itu teringat mengajar beliau yang serius tapi menyenangkan. Tidak heran sebagian siswa mengidolakan beliau. Beliau menjadi guru tak semudah membalikan telapak tangan. Kesuksesan yang beliau rasakan sekarang berkat perjuangan dalam perjalanan hidupnya sejak kecil. Guru satu ini memiliki nama lengkap Hendrik Eko Priyanto. Lahir di desa Sinanggul, 26 April 1971. Beliau merupakan anak pertama dari empat bersaudara yang lahir dari pasangan Bapak Kusnadi dan Ibu Sofiyatun. Bapaknya bekerja sebagai petani dan  ibunya sebagai ibu rumah tangga. Walau dengan keadaan keluarga yang pas-pasan, namun itu semua tidak mematah semangat beliau untuk mengukir prestasi yang gemilangnuntuk masa depannya.
                Bapak Hendrik sering dipanggil Si Doel oleh orang sekitarnya. Di balik panggilan Si Doel bukanpanggilan asal-asalan. Beliau dipanggil  Si Doel karena di anggap sebagai orang yang tidak  diperhitungkan, miskin, tapi oleh masyarakat sekitar mengatakan pintar. Dengan seemangat yang tinggi serta sarana dan prasarana yang seadanya beliau belajar dengan sungguh-sungguh sambil kerja. Semua dilakukan sejak SD kelas lima dan enam. Jangan salah ini semua beliau lakukan hanya untuk membantu orangtuanya yang hanya mengandalkan kebun untuk menghidupi keluarga. Setiap pulang sekolah beliau tidak bermain dengan teman sebayanya, melainkan bekerja di antaranya ukir dan mahat, membantu Bapaknya di kebun serta buruh di rumah tetangga seperti membersihkan kamar mandi, mengecat, membersihkan rumah, dan lain-lain.
                Ada hal yang unik dari beliau. Selama enam tahun tahu di SD beliau hanya mengunakan sepasang sepatu dan hanya satu seragam. Karena terkungkung dengan sepatu yang ukurannya kecil, membuat kakinya berukuran kecil dan tidak proposionaal sampai sekarang ini. Sepatu yang digunakan beliau hanya berukuran 38. Ada hal yang begitu berkesan bagi beliau yaitu merupakan orang pertama yang masuk sekolah umum di Desa Sinanggul, karena sebagian besar masuk pesantren atau madrasah. Dengan hidup mandiri menjadikan mental beliau kuat dalam menghadapi kehidupan, sehingga menghadapi model penderitaan seperti apapun pasti bisa. Di usia SMP beliau terkenal anak yang nakal dan saat kelas tiga menjadi baik. Setelah memasuki SMA semuanya menjadi berubah. Beliau menjadi pribdi yang pendiam, tapi fokus belajar. Karena mendapat sedikit ancaman dari Orangtua “Sedikit membohongi orang tua maka harus keluar dari SMA”.
                Orang tua juga selalu mendorong untuk sekolah dan melarangnya untuk bekerja dan harus bersekolah, karena anak yang sudah bisa bekerja jadi malas belajar. Ada hal unik lai dari beliau, selama tiga tahun di SMA presensinya hadir 100%. Beliau juga lulus dari SMA dengan rangking 3 paralel dari 120 siswa. Setelah  mendapat ijazah SMA dengan prestasi yang membanggakan, beliau berkeinginan untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi. Melihat keadaan keluarga yang kurang, dengan minta izin orang tua pasti tidak disetujui. Akhirnya beliau memilih strategi mendaftar kuliah dulu, setelah diterima baru bilang dengan orang tua. Beliau yakin dengan semangat yang besar, Allah pasti member jalan. Memanfaatkan uang hasil sunatan adiknya, yaitu Rp 20.000 beliau gunakan untuk membeli formulir pendaftaran seharga Rp 18.000 dan sisanya digunakan sebagai ongkos untuk ke Semarang.
                Dan hasilnya beliau diterima di IKIP Negeri Semarang di fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial jurusan Pendidikan Sejarah, sehingga mau tidak mau orang tuanya harus membiayai. Dengan perjuangan beliau yang begitu besar, akhirnya orang tuanya memutuskan untuk membagi hak waris. Beliau mendapat warisan berupa sepetak tanah yang digunakan beliau untuk membiayai kuliah. Namun,sepetak tanah itu hanya cukup sampai semester IV. Setelah kehabisan dana, beliau memanfaatkan beberapa ketrampilannya seperti potong rambut, hibur teman dengan banyolan, berbagai macam seni dan olahraga sehingga memudahkan untuk kuliah. Makanpun jarang beli karena ditraktir teman-temannya yang merupakan anak orang kaya, namun tidak bisa memanfaatkan fasilitas yang dimiliki. Salah satu teman beliau yang sakit Leukimia yaitu Kukuh Ary Wicaksono dan karena penyakitnya beliau selalu berusaha menghibur temannya dan tidak cek darah lagi. Dan temannya masih hidup sampai sekarang. Sehingga tiap pulang ada yang jemput dan penginapanpun ada yang nanggung.
                Suatu hari beliau juga bertemu dengan juara satu Catur Putri, mereka bermain bersama dan bapak Hendrik dapat mengalahkan. Beliau akhirnya mendapat buku kuiah gratis dari cewek itu. Semester VII beliau mengikuti beasiswa Ikatan Dinas karena mempunyai prestasi. Beliau lulus dengan tiga besar dan menjadi wisudawan terbaik tahun 1994 dari 38 orang dalam satu angkatan dan yang lulus hanya enam orang termasuk beliau. Beliau lulus tahun 1994 dan langsung ditempatkan di SMAN 1 Welahan sampai sekarang ini Dari 18 orang yang ikut Ikatan Dinas semua ditempatkan di Nusa Tenggara Barat, namun bapak Hendrik belum sendiri. Setelah diurus ke Jakarta ternyata ada sedikit kesalahan dengan ijazahnya. Dan kebetulan waktu penempatan Ikatan Dinas sudah pindah ke Jawa Tengah dan kebetulan di Jepara ada pembangunan gedung baru yaitu SMAN 1 Welahan. Akhirnya beliau di tempatkan di SMAN 1 Welahan. Dari itu, beliau menyadari bahwa ridho oran tua sangat berarti, karena sebelumnya orang tua beliau tidak rela jika beliau kerja jauh dari keluarga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar