Minggu, 25 Desember 2016

Pemuda Gerakan Pembangun

                   Semarang – Peringatan Sumpah Pemuda yang jatuh pada hari Jumat 28 Oktober 2016 kemarin, dirayakan oleh sejumlah mahasiswa Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) yang diselenggarakan dan tergabung dalam teater gema. Mereka sengaja menghadirkan aksi orasi diparkiran Gedung Utama dan disaksikan ratusan mahasiswa. Dalam aksi orasi itu, membangun pemuda-pemuda yang lupa akan sejarah dan menghadirkan gambaran betapa cerdiknya pejuang zaman dahulu termasuk Muh Yamin, dalam merusmuskan Sumpah Pemuda.
           Padahal banyak tantangan untuk membentuk sumpah yang menjadi awal kebangkitan semangat para pemuda. “Meski saat ini perjuangan tidak lagi dalam arti melawan penjajahan, namun bisa dilakukan dengan hal lain. Peringatan sengaja digelar agar para pemuda, khususnya mahasiswa di kampus, mampu meneruskan perjuangan para pejuang. Semangat Sumpah Pemuda bisa dilakukan dengan lebih mengedepankan keilmuan para mahasiswa untuk kemajuan bangsa. Karena bagaimanapun, mahasiswalah yang nantinya menjadi pemimpin di masa depan.
            Melalui kualitas dan kemampuan yang dimilikinya pemuda harus mempunyai keyakinan untuk dapat menguasai dunia, harus siap bersaing dan berkompetisi. Pemuda harus mau untuk terus belajar dan belajar untuk memenangkan kompetisi. Untuk mampu tampil sebagai pelopor perubahan dalam kemajuan pmuda hars mampu menggenggam dunia dengan kreativitas dan inovasinya. Dalam pemikirannya, pemuda seharusnya sudah memiliki kondisi fisik yang baik serta mental yang kuat untuk modal berkreasi membangun bangsa.
            Orasi yang dilaksanakan mengajak seluruh mahasiswa sebagai pemuda untuk tak henti-hentinya berupaya dab berikhtiar memajukan negeri ini, “Pemuda adalah harapan bangsa”, maka sudah seharusnya memiliki kesehatan fisik dan mental yang baik. Jadi mari kuatkan tekad dan usaha untuk membangun bangsa dan negeri dengan akal yang sehat, jiwa yang sehaat untuk meraih masa depan.
            Hanya kesungguhan yang akan mengantarkan bangsa ini menggenggam dunia, melalui para pemuda. Pemuda kekinian harus mampu menjawab semua tantangan zaman. Pemerintah diharapkan member beasiswa gratis pada mahasiswa berprestasi. Melaui program tersebut dimaksudkan dapat memberikan bekal ilmu jenjang pendidikan tinggi. Harapannya, pemuda kelak bisa mengabdikan diri untuk membangun bangsa ini.
Jangan Hanya Jadi Penonton
Peringatan Sumpah Pemuda tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa. Sekelompok pegiat budaya juga menyelenggarakan refleksi 88 tahun Sumpah Pemuda. Contoh, bertempat di Dukuh Putat, Desa Sumanding, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara. Bertujuan untuk membangun kesadaran bersama para pemuda agar tidak menjadi penonton atau bahkan menghujat pembangunan negeri. Kegiatan ini diikuti sekitar 175 dari berbagai desa. Ada tiga pembicara yang didatangkan dalam kegiatan yaitu Muhammad Iskak Wijaya, Hadi Pureanto dan Suharno yang juga menampilkan seni tradisi. “Pemuda wajib hadir dalam setiap langkah untuk mencapai kemajuan bangsa, bukan menjadi penonton apalagi penghujat”.
Muhammad Iskak Wijaya mengajak para pemuda untuk bangun dan bangkit dari tidurnya. Pegiat budaya yang turut menginisiasi lahirya Festival Kartini Jepara berharap para pemuda untuk mencurahkan potensi dirinya. Dia juga mengungkapkan potensi alam juga harus ditingkatkan. Karena itu dia mengajak pemuda untuk kembali mencintai bidang pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan. Pemuda saat ini kurang minat dalam bidang tersebut. Padahal itu juga potensi yang mempengaruhi kemajuan sebuah bangsa.
Hadi Pureanto yang dikenal sebagai dalang kondang, mengajak pemuda utnuk mencintai kembali budaya local. “Seyogyanya pemuda tidak kehilangan jati diri dan jangan sampai seni tradisi menjadi mati suri”. Sementara Suharno, Ketua Paguyuban Seni pendalangan mengaku cemas semakin menurunnya minat generasi muda pada seni budaya tradisi. Padahal pelestarian ini sangat terkait dengan karakter bangsa.
Kesenian budaya pada saat ini kurang dilestarikan dengan baik oleh pemuda. Dibuktikan dengan sekarang ini banyak tidak menyenag, bahkan tidak pernah melihat atau tidak mengenal seni budaya negeri ini dengan keanekaragaman dan kelebihan setiap daerah. Untuk mengenal dan membangun berkepribadian budaya seni tradisional dapat diadakan agenda rutin di setiap kegiatan baik pada eksternal dan internal jurusan maupun fakultas. Contoh dengan mengadakan kegiatan Festival Budaya setiap memperingati bulan bahasa.
 Bukan hanya kurangnya pelestarian seni budaya oleh pemuda. Pemuda saat ini juga kian meluntur rasa kecintaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Padahal itu juga menjadi alat pembangunan bangsa ini.Seharusnya pemuda bersumpah pada dirinya sendiri “Saya bangga menjadi bangsa Indonesia, saya bangga bertanah airkan Indonesia, dan berjanji mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hingga mat, bukan basa-basi”. Lunturnya kecintaan kepada Tanah Air lantaran minimnya pemahaman terhadap sejarah bangsa maupun sejarah Islam.
Minimnya bekal sejarah ini pula yang menyebabkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, sahabat, keluarga, pewarisannya (ulama), dan para pejuang berkurang. Dengan mempelajari sejarah Nabi Muhammad , sahabat, keluarga, pewaris nabi (ulama), dan sejarah bangsa, maka kecintaan pada bangsa akan semakin kuat. Adanya oknum yang sengaja menjauhkan dari sejarah ke dalam aliran tertentu, menjadi minimnya sejarah digenerasi muda. Mempelajari sejarah nabi, sahabat, walisongo dianggap syiah, sehingga akhirnya takut mempelajari sejarah. Padahal sejarah bagi generasi muda menjadi obor untuk modal membangun masa depan bangsa.
Untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus mampu memperkuat sejarah. Pelajari sejarah bangsa mulai tokoh-tokoh pembangun ekonomi, pertanian, ulama-ulama, dan pendahulu yang membangun bangsa. Bangsa ke depan maju atau tidak ada dipundaknya generasi muda. Sehingga jangan mempermalukan sesepuh-sesepuh bangsa ini. Persiapkan tanggung jawab dan menjawab tantangan umat dan bangsa. “Mari rapatkan barisan jangan memberikan kesempatan bagi oknum-oknum yang ingin memecah belah Indonesia”.

--- Nilna Zakkiya ‘Azmi, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas PGRI Semarang. ---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar