Padahal banyak tantangan untuk
membentuk sumpah yang menjadi awal kebangkitan semangat para pemuda. “Meski
saat ini perjuangan tidak lagi dalam arti melawan penjajahan, namun bisa
dilakukan dengan hal lain. Peringatan sengaja digelar agar para pemuda,
khususnya mahasiswa di kampus, mampu meneruskan perjuangan para pejuang.
Semangat Sumpah Pemuda bisa dilakukan dengan lebih mengedepankan keilmuan para
mahasiswa untuk kemajuan bangsa. Karena bagaimanapun, mahasiswalah yang
nantinya menjadi pemimpin di masa depan.
Melalui kualitas dan kemampuan yang
dimilikinya pemuda harus mempunyai keyakinan untuk dapat menguasai dunia, harus
siap bersaing dan berkompetisi. Pemuda harus mau untuk terus belajar dan
belajar untuk memenangkan kompetisi. Untuk mampu tampil sebagai pelopor
perubahan dalam kemajuan pmuda hars mampu menggenggam dunia dengan kreativitas
dan inovasinya. Dalam pemikirannya, pemuda seharusnya sudah memiliki kondisi
fisik yang baik serta mental yang kuat untuk modal berkreasi membangun bangsa.
Orasi yang dilaksanakan mengajak
seluruh mahasiswa sebagai pemuda untuk tak henti-hentinya berupaya dab
berikhtiar memajukan negeri ini, “Pemuda adalah harapan bangsa”, maka sudah
seharusnya memiliki kesehatan fisik dan mental yang baik. Jadi mari kuatkan
tekad dan usaha untuk membangun bangsa dan negeri dengan akal yang sehat, jiwa
yang sehaat untuk meraih masa depan.
Hanya kesungguhan yang akan
mengantarkan bangsa ini menggenggam dunia, melalui para pemuda. Pemuda kekinian
harus mampu menjawab semua tantangan zaman. Pemerintah diharapkan member
beasiswa gratis pada mahasiswa berprestasi. Melaui program tersebut dimaksudkan
dapat memberikan bekal ilmu jenjang pendidikan tinggi. Harapannya, pemuda kelak
bisa mengabdikan diri untuk membangun bangsa ini.
Jangan Hanya
Jadi Penonton
Peringatan Sumpah Pemuda tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa.
Sekelompok pegiat budaya juga menyelenggarakan refleksi 88 tahun Sumpah Pemuda.
Contoh, bertempat di Dukuh Putat, Desa Sumanding, Kecamatan Kembang, Kabupaten
Jepara. Bertujuan untuk membangun kesadaran bersama para pemuda agar tidak
menjadi penonton atau bahkan menghujat pembangunan negeri. Kegiatan ini diikuti
sekitar 175 dari berbagai desa. Ada tiga pembicara yang didatangkan dalam
kegiatan yaitu Muhammad Iskak Wijaya, Hadi Pureanto dan Suharno yang juga
menampilkan seni tradisi. “Pemuda wajib hadir dalam setiap langkah untuk
mencapai kemajuan bangsa, bukan menjadi penonton apalagi penghujat”.
Muhammad Iskak Wijaya mengajak para pemuda untuk bangun dan bangkit
dari tidurnya. Pegiat budaya yang turut menginisiasi lahirya Festival Kartini
Jepara berharap para pemuda untuk mencurahkan potensi dirinya. Dia juga
mengungkapkan potensi alam juga harus ditingkatkan. Karena itu dia mengajak
pemuda untuk kembali mencintai bidang pertanian, perkebunan, perikanan, dan
peternakan. Pemuda saat ini kurang minat dalam bidang tersebut. Padahal itu
juga potensi yang mempengaruhi kemajuan sebuah bangsa.
Hadi Pureanto yang dikenal sebagai dalang kondang, mengajak pemuda
utnuk mencintai kembali budaya local. “Seyogyanya pemuda tidak kehilangan jati
diri dan jangan sampai seni tradisi menjadi mati suri”. Sementara Suharno,
Ketua Paguyuban Seni pendalangan mengaku cemas semakin menurunnya minat
generasi muda pada seni budaya tradisi. Padahal pelestarian ini sangat terkait
dengan karakter bangsa.
Kesenian budaya pada saat ini kurang dilestarikan dengan baik oleh
pemuda. Dibuktikan dengan sekarang ini banyak tidak menyenag, bahkan tidak
pernah melihat atau tidak mengenal seni budaya negeri ini dengan keanekaragaman
dan kelebihan setiap daerah. Untuk mengenal dan membangun berkepribadian budaya
seni tradisional dapat diadakan agenda rutin di setiap kegiatan baik pada eksternal
dan internal jurusan maupun fakultas. Contoh dengan mengadakan kegiatan Festival
Budaya setiap memperingati bulan bahasa.
Bukan hanya kurangnya
pelestarian seni budaya oleh pemuda. Pemuda saat ini juga kian meluntur rasa
kecintaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Padahal itu juga
menjadi alat pembangunan bangsa ini.Seharusnya pemuda bersumpah pada dirinya
sendiri “Saya bangga menjadi bangsa Indonesia, saya bangga bertanah airkan
Indonesia, dan berjanji mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI) hingga mat, bukan basa-basi”. Lunturnya kecintaan kepada Tanah Air
lantaran minimnya pemahaman terhadap sejarah bangsa maupun sejarah Islam.
Minimnya bekal sejarah ini pula yang menyebabkan kecintaan kepada
Nabi Muhammad SAW, sahabat, keluarga, pewarisannya (ulama), dan para pejuang
berkurang. Dengan mempelajari sejarah Nabi Muhammad , sahabat, keluarga,
pewaris nabi (ulama), dan sejarah bangsa, maka kecintaan pada bangsa akan
semakin kuat. Adanya oknum yang sengaja menjauhkan dari sejarah ke dalam aliran
tertentu, menjadi minimnya sejarah digenerasi muda. Mempelajari sejarah nabi,
sahabat, walisongo dianggap syiah, sehingga akhirnya takut mempelajari sejarah.
Padahal sejarah bagi generasi muda menjadi obor untuk modal membangun masa
depan bangsa.
Untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
harus mampu memperkuat sejarah. Pelajari sejarah bangsa mulai tokoh-tokoh
pembangun ekonomi, pertanian, ulama-ulama, dan pendahulu yang membangun bangsa.
Bangsa ke depan maju atau tidak ada dipundaknya generasi muda. Sehingga jangan
mempermalukan sesepuh-sesepuh bangsa ini. Persiapkan tanggung jawab dan
menjawab tantangan umat dan bangsa. “Mari rapatkan barisan jangan memberikan
kesempatan bagi oknum-oknum yang ingin memecah belah Indonesia”.
--- Nilna Zakkiya ‘Azmi, Mahasiswa
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas PGRI Semarang. ---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar