Selasa, 20 Oktober 2015

Ulasan Wayang Kampung Sebelah



"MAWAS DIRI MENAKAR BERANI"

Saat kakek memimpin penghitungan suara pilkades. Papan tulis untuk mencatat penghitungan suara tiba-tiba hilang. Kepala keamanan ditanya tidak tahu. Begitu juga dengan Sodrun ketika ditanya malah salah tangkap merasa dituding sebagai biang hilangnya papan tulis. Namun papan tulis itu ternyata disimpan kembali oleh Suto Coro sebagai kepala rumah tangga kelurahan. Dia tidak merasa bersalah menyimpan kembali papan tulis itu . Terjadi perdebatan sengit antara Suto Coro dan Mbah Sidik yang berakhir dengan kesanggupan Suto Coro meminjamkan papan tulis.
Parjo memberikan hasil penghitungan suara kepada kakek yang lagi sibuk mencari papan tulis. Kakek setelah itu membacakan hasil penghitungan suara yang di menangkan oleh Somad sebagai pemenang pilkades. Somad diminta menandatangani berita acara sebagai pemenang, kemdian kakek meminta bonus pemenangan kepada Somad.
Somad mengadakan hiburan dalam rangka tasyakuran kemenangan sebagai lurah baru Desa Bangunjiwo. Sederetan artis di datangkan di atas panggung untuk menghibur penonton. Tiba-tiba Jhony naik ke atas panggung. Dia memprotes kemenangan Lurah Somad yang dianggap curang. Apa jadinya desa ini jika dipimpin oleh orang yang sejak berangkat meraih jabatan telah melakukan kecurangan. Kelak saat memimpin pasti juga akan tega melakukanyang lebih dari iitui. Jhony mempengaruhi massa agar bergerak menegakkan kebenaran dan keadilan dengan menggagalkan hasil pilkades.
Seorang yang mabuk merasa terusik oleh Jhony. Dia segera naik ke atas panggung meminta Jhony berhenti berbicara, dia menantang berkelah orang yang mabuki. Tapi pemuda pemabuk itu menanggapi dengan senyum sinis. Ia menegaskan bahwa dirinya adalah sang pemabuk netral. Jhony yang merasa terdesak dalam perdebatan itu langsung menyerang Kampret. Perkelahian keduanya memicu tawur massa.
Karyo mendatangi Pak Gendut seorang anggota polisi, Mbah Modin, Pak Somad, dan Parjo.
Karyo langsung memarahi semua orang yang tidak bergerak apa-apa seakan menikmati kerusuhan yang sedang terjadi. Pak Gendut disuruh agar bergerak meredam kerusuhan.


Karyo bingung. Dia mendesak Pak Somad sebagai lurah yang baru harus bisa mengendalikan situasi. Pak Somad berkata, karena pejabat baru maka belum menguasai masalah. Dia perlu mempelajari situasi dan kondisi dahulu, berkoordinasi, baru bisa menentukan tindakan yang harus diambil.
Pak Karyo berkata “Waaaa… rakyate selak modar, Pak!”. Calon pemimpin sebelum menjabat seharusnya sudah lebih dulu menguasai masalah, bukan menjabat dulu baru mempelajari masalah. Kalau sikap dan pola pikir calon-calon pemimpin di negeri ini seperti itu, mustahil ada pemimpin yang benar-benar menguasai masalah dan mampu menyelesaikannya. Kaderisasi pemimpin di negara ini memang benar-benar bermasalah.
Terakhir Karyo berbicara kepada anggota TNI, agar ambil inisiatif bergerak meredam kerusuhan. Parjo berkata, bukan ranah tugas dan wewenangnya. Tugas dan wewenangnya ada di wilayah pertahanan dan keamanan negara. Urusan keamanan adalah tugas kepolisian. TNI hanya punya wewenang membantu polisi kalau ada intruksi dari pihak kepolisian. Jika bergerak sendiri, TNI akan menyalahi prosedur dan tentu akan dipersalahkan oleh semua orang. Karyo sudah tak habis pikir. Di kerusuhan itu, rakyat saling berbenturan. Setiap saat nyawa bisa melayang tanpa mau menunggu keputusan prosedur hukum.
Kampret  tiba-tiba muncul  tidak mempermudah penyelesaian masalah tapi justru memperumit penyelesaian masalah. Orang cenderung menghindar dari pekerjaan berat. Anehnya kita berkelahi mati-matian untuk memperebutkan pekerjaan yang berat. Betapa hebatnya bangsa ini yang ternyata dipenuhi manusia-manusia super yang berebut siap menanggung beban beratnya kekuasaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar